UC News

Aktivitas Gempa Meningkat

Aktivitas Gempa Meningkat
Sepanjang 2019, sedikitnya 11.588 kasus gempa bumi melanda Indonesia.


JAKARTA (HN) - Memasuki akhir tahun, kasus gempa bumi masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Pada Desember 2019 misalnya, sedikitnya lima kasus terjadi, melanda Maluku, Sulawesi Utara, termasuk Gorontalo.

Dalam catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedikitnya 11.588 gempa terjadi sepanjang 2019. Tahun lalu, frekuensi yang tercatat mencapai 11.987. Jumlah tersebut meningkat signifikan ketimbang 2017 dengan 6.320 kasus.

"Sedang ada peningkatan seismik di Indonesia. Jika bicara tektonik, ada periode ulang (recurrent time)," kata Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG Nova Heryandoko kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta, Selasa (3/12).

Periode ulang, menurut Nova, bisa berlangsung hingga ratusan tahun. "Jika ada energi yang terlepaskan, akan terakumulasi lagi," ujarnya.

Nova menyatakan, Laut Banda, Maluku, Maluku Utara, juga Papua bagian utara menjadi wilayah masuk kerap dilanda gempa. Kondisi tersebut imbas pertemuan tiga lempeng, yakni Lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia.

Sebaliknya, kata Nova, wilayah yang masuk zona megathrust, memanjang dari barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, frekuensi gempa lebih sedikit. "Tipikal megathrust, energinya terus terakumulasi. Begitu lepas, dia akan melepaskan energi yang besar," ungkapnya.

Menurut Nova, sebagian besar wilayah di Indonesia dikelilingi Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Imbasnya, potensi gempa bumi, termasuk erupsi gunung berapi, hampir merata. Kendati demikian, Nova mengimbau masyarakat tak perlu takut. Mitigasi bencana diyakini mampu meminimalisasi risiko.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar menyatakan, penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terus dilakukan. Terkait gempa bumi, pemberian informasi seputar potensi bahaya dan pengurangan risiko bencana.

Sosialisasi, menurut Rudy, dilakukan kepada seluruh lapisan, bahkan hingga sekolah dasar. "Sosialisasi dan penyuluhan untuk mengurangi risiko di daerah rawan bencana, juga guna memperbarui peta kawasan rawan bencana (KRB) di wilayah tertentu," kata Rudy.

Badan Geologi juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setiap melakukan penyuluhan. "Intensitas dan cakupan wilayah penyuluhan bergantung aktif atau tidaknya BPBD," ujarnya.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Agus Wibowo mengatakan, BNPB bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) memiliki program bernama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Dalam kegiatan tersebut, BNPB memberikan pengetahuan sadar bencana. Kemendikbud dan Kemenag kemudian membuat kurikulum untuk diterapkan di sekolah.

Selain di sekolah, menurut Agus, BNPB juga membuat program lain untuk meningkatkan kesadaran bencana, seperti Pasar Tangguh Bencana dan Desa Tangguh Bencana. Dalam waktu dekat, BNPB meluncurkan program baru, yakni Keluarga Tangguh.

"Program tersebut akan mengajarkan menjadi juru keluarga tangguh," kata Agus. Selain masyarakat lingkup terkecil, BNPB juga menyasar sekolah, lembaga negara, swasta, juga lembaga swadaya masyarakat.
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot