UC News

Asal Usul Tradisi Slametan, Perlawanan Sunan Bonang Terhadap Ritual Kejam

Asal Usul Tradisi Slametan, Perlawanan Sunan Bonang Terhadap Ritual Kejam
Foto ilustrasi: inikebumen.net

Slametan atau kenduri sudah menjadi tradisi yang umum dilakukan sebagian masyarakat tanah air, terutama masyarakat di pulau jawa. Slametan biasanya digelar untuk melancarkan keperluan si empu-nya hajat. 

Pada acara slametan, orang-orang duduk bersila melingkar di atas tikar. Di tengahnya ada berbagai makanan dan minuman yang disajikan seperti nasi tumpeng beserta lauk-pauknya. Kemudian dipanjatkan doa-doa dan bacaan kalimat tauhid kepada Allah SWT agar diberi keselamatan dan kelancaran urusan. 

Akan tetapi barangkali tidak banyak yang tahu, tradisi slametan ternyata bermula dari perlawanan Syekh Maulana Makhdum Ibrahim atau populer disebut Sunan Bonang terhadap ritual menyimpang di masyarakat kala itu. Dilansir laman resmi Nahdlatul Ulama, saat itu bhairawa tantra atau pengamal aliran tantrayana mengajarkan ritual kejam nan mengerikan. 

Foto ilustrasi: Tempo.co

Dari sumber yang sama, sejarawan Agus Sunyoto mengatakan, tantrayana berasal dari India Selatan. Aliran ini kemudian menyebar ke nusantara dan dianut beberapa orang saja karena sifatnya yang ekslusif dan rahasia. Tak hanya itu, pengamal aliran ini juga melakukan ritual yang membuat bulu kuduk merinding. 

Bagaimana tidak, pengamalnya diwajibkan melakukan ritual pancamakara (lima keharusan) dengan sebanyak-banyaknya. Ritual tersebut meliputi; pertama, harus makan daging mayat dan minum darah (mamsa). Kedua, menenggak minuman keras sebanyak-banyaknya (madya). Ketiga, makan ikan gembung beracun (matsya). Keempat, bersetubuh secara berlebihan. Kelima, melakukan tarian hingga pingsan (Mudra). 

Kesemua ritual tersebut dilakukan dengan cara duduk melingkar. Para pengamalnya melakukan ritual tersebut demi mencari kesaktian. Bahkan menurut Sunyoto, Sunan Bonang pernah terluka oleh penganut ritual tersebut ketika beliau sedang berada di Kediri. 

Foto ilustrasi: goodnewsfromindonesia.id

Namun setelah sembuh, beliau menyusun strategi dakwah agar masyarakat tak terjerumus ritual sesat tersebut. Ketika berada di Desa Singkal Kediri, Sunan Bonang mereplikasi upacara yang dilakukan penganut tantrayana namun dengan substansi yang berbeda. 

Orang-orang tetap diperbolehkan berkumpul duduk melingkar, namun yang di tengahnya bukan korban manusia melainkan diganti dengan makanan dan minuman yang halal. Kemudian juga dilantukan ayat suci Alquran serta doa-doa memohon keselamatan kepada Allah SWT. 

Slametan awalnya berfungsi untuk menyelamatkan penduduk desa di sekitar Kediri agar tidak jadi korban Pancamakara aliran Tantrayana. Akan tetapi karena nilainya yang positif, tradisi tersebut kemudian menyebar ke Pantura dan ke pelosok daerah lainnya. 

Referensi: nu.or.id (24/4/2016)

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot