UC News

Baturraden Primadona Museum Tetap Seret

Baturraden Primadona Museum Tetap Seret
SM/Dian Aprilianingrum - MENIKMATI KEINDAHAN: Pengunjung menikmati keindahan panorama sore di Taman Bale Kemambang Purwokerto, Selasa (8/1).(20)

PURWOKERTO - Lokawisata Baturraden masih menjadi primadona wisatawan lokal sepanjang tahun 2018. Objek wisata di lereng Gunung Slamet ini, bahkan menembus rekor Pendapatan Asli Daerah hingga mencapai Rp 10,4 miliar.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Saptono Supriyanto mengatakan, tren wisata alam dan wisata massal masih menjadi daya tarik utama wisatawan yang berkunjung ke Banyumas.

Oleh karena itu, Lokawisata Baturraden memang masih menjadi destinasi utama. "Lokawisata Baturraden mencatatkan kunjungan tertinggi sebanyak 715.663 orang," kata dia, Rabu (9/1).

Menurut Saptono, stagnasi kunjungan terlihat di dua museum, yaitu Museum Jenderal Sudirman di komplek Taman Rekreasi dan Hiburan (THR) Jenderal Soedirman dan Museum Wayang "Sendang Mas". Pengunjung Museum Pangsar Soedirman merosot hampir separuhnya. Meski pada akhir tahun 2018 lalu, Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman Karanglewas mendapatkan tambahan koleksi dua buah tank jenis AMX-13 dan 24 pucuk senjata ringan.

Peralatan tempur itu disumbangkan oleh TNI Angkatan Darat untuk menjadi koleksi. "Kalau untuk koleksi museum menjadi tanggung jawabnya bidang kebudayaan. Kami hanya di lahan Taman Hiburan Rakyat. Untuk tahun depan, rencananya kami akan menambah wahana permainan anak untuk menarik minat pengunjung," katanya.

Dari data Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas, khusus untuk Museum Wayang sejak tahun 2013 hingga 2018 tak mampu menembus angka 15.000.

Meski tiket masuknya cukup murah yaitu Rp 2.000 namun tidak mampu menaikkan minat pengunjung. Pegiat komunitas Banyumas Heritage, Jatmiko Wicaksono mengatakan, sejatinya koleksi Museum Wayang di komplek Pendopo Duplikat Si Panji Kota Lama Banyumas ini sebenarnya cukup lengkap.

Diantaranya terdapat Wayang Gagrag Banyumasan tempo dulu dan sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wrayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Krucil, Wayang Beber, Gamelan Slendro, Calung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket, Banyumas Tempo dulu dan masih banyak lagi.

"Tetapi, koleksi tersebut tidak dikelola dengan maksimal. Aset sebanyak itu harusnya mampu menarik wisatawan dari kalangan pelajar dan dari mancanegara yang ingin mempelajari wayang," kata dia. Jatmiko yang juga pemerhati sejarah Banyumas ini mengatakan, Pemkab tak pernah mengelola museum dengan serius.

Buktinya, isi museum Pangsar Jenderal Soedirman hanya duplikasi dari Museum Sasmitaloka Jenderal Soedirman di Yogyakarta. Selain itu, hiburan berupa pasar malam di komplek tersebut kurang pas dengan misi museum.

"Ibarat barang dagangan, benda koleksi museum itu harus bisa dijual. Tentu dengan kemasan paket yang menarik minat pengunjung. Koleksi juga harus ditambah dengan sejarah rute gerilya Jenderal Soedirman di Banyumas, tentu lebih menarik," kata dia. (K35-20)

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot