UC News

Bedanya Ramadan Dengan Ilmu dan Ramadan Tanpa Ilmu

Sudah berapa Ramadan terlalui dalam hidup ini? Apakah dari Ramadan yang satu ke Ramadan berikutnya mengalami peningkatan kualitas atau masih begitu-begitu saja? Yang diharapkan tentu bukan sekadar menjalani Ramadan sebagai ritual rutin sekali dalam setahun. Karena Ramadan harus menetap dalam diri, yang kemudian menjadikan seorang muslim sebagai insan yang bertakwa. Maka, Ramadan harus dilaksanakan dengan ilmu.

Bedanya Ramadan Dengan Ilmu dan Ramadan Tanpa Ilmu
Referensi pihak ketiga

Demikian ditegaskan oleh Ustadz H. Oemar Mita, Lc. dalam ceramah Ramadannya yang dapat diakses melalui kanal Youtube, di saluran Islam Terkini-Channel Tilawah dan Dakwah. Menurut Ustadz Oemar Mita, Allah senang bila umatnya mendatangi, mendekat kepadaNya dengan ilmu. Maka saat Ramadan ini, kita harus melaksanakannya dengan ilmu. Harus ada rasa malu kepada Allah, bila Ramadan kali ini yang sudah kesekian kalinya dijalani, masih sama saja pengetahuan dan pemahaman kita tentang Ramadan seperti zaman sekolah dulu.

Setidaknya sekali seumur hidup harus mengikuti dauroh atau kajian yang mengupas tuntas tentang Ramadan. Bagaimana menyikapi hilal, bagaimana berniat, dan seluruh perkara Ramadan hendaknya dipelajari dan dikaji. Karena akan beda, Ramadannya orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, ungkap Ustadz Oemar Mita.

Selanjutnya Ustadz Oemar Mita membacakan cuplikan firman Allah dalam Quran Surat AzZumar ayat 9 yang kandungan isinya tentang bedanya orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu. Maka urusan mencari ilmu, mencari pengetahuan tentang ibadah, harus menjadi urusan yang penting. Tentu tidak sama di hadapan Allah, ibadahnya orang yang paham dengan orang yang tidak paham.

Referensi pihak ketiga

Lebih jauh Ustadz Oemar Mita memaparkan bahwa tidak mungkin sama di sisi Allah, orang yang bersungguh-sungguh mendatangi banyak kajian agar ia memahami agamanya, dengan orang yang santai-santai saja di rumah, tidak bergerak untuk mendatangi majelis ilmu.

Sebagai contoh, orang yang paham tentang Ramadan dengan orang yang tidak paham tentang Ramadan, bisa dilihat dari caranya berbuka. Orang yang tidak paham akan mengisi perut sekehendak hatinya, sedangkan orang yang paham akan mengawali buka puasanya dengan makan kurma dalam bilangan ganjil. Itu contoh sederhana. Belum lagi dalam masalah tatacara ibadah dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Referensi pihak ketiga

Sehingga Ustadz Oemar Mita berpesan, jangan sampai Ramadan ini terlalui begitu saja, tanpa mendapatkan keutamaan di dalamnya, hanya karena kita tidak tahu dan tidak paham. Tumbuhkan keingintahuan dan semangat untuk mempelajari fiqih Ramadan serta hal-hal terkait Ramadan, dengan mendatangi kajian-kajian, membuka kitab-kitab atau buku-buku tentang Ramadan. Setelah tahu dan paham, lalu laksanakan.

Tentu kita ingin mendapat pahala lebih dari pelaksanaan ibadah Ramadan. Syaratnya adalah dengan ilmu. Bila sudah paham ilmunya, tidak akan terjadi lagi hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Misalnya, meminta maaf sebelum memasuki Ramadan, mandi besar atau mandi janabah saat menjelang Ramadan. Itu contoh kecil saja, menurut Ustadz Oemar Mita.

Di penghujung ceramahnya, Ustadz Oemar Mita mengingatkan agar sejak sekarang kita memperbaiki diri, memperbaiki kualitas Ramadan, dengan ilmu. Tak ada kata terlambat. Berusahalah melaksanakan ibadah dengan memahaminya melalui ilmu.

Dengan berbekal ilmu, semoga Ramadan kali ini lebih baik dari Ramadan sebelumnya.

 

#ramadan

Sumber foto : youtube.com

warohmah.com

pkspadangok.blogspot.co.id

Topic: #ramadan
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot