UC News

Bukan Cara Biasa Menjaga Maleo

Bukan Cara Biasa Menjaga Maleo
Maleo disebut si kepala besar © Foto: Ridzki R. Sigit
  • Maleo senkawor [Macrocephalon maleo] adalah burung khas Sulawesi. Telurnya seukuran telapak tangan orang dewasa, menetas dalam timbunan pasir dengan bantuan panas alami
  • Sang piyik [anakan maleo], butuh dua hari menggali pasir untuk bisa muncul ke permukaan. Lalu, melompat dan menghadapi kerasnya kehidupan, termasuk ancaman pemangsa, tanpa bantuan
  • Resort merupakan unit pengelolaan terkecil kawasan konservasi di Indonesia. Pengelolaan kawasan konservasi berporos Resort Basesed Management [RBM] membentuk para petugas resort tidak kaku melihat upaya konservasi
  • Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terdiri 11 resort yang terbagi tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional [SPTN]. Desa sekitar kawasan, 140 desa berbatasan langsung, merupakan prioritas kerja pengelolaan taman nasional ini

Taufik Nadjamuddin [51] bersama Djaka [65] mengayuh rakit bambu tua, melintasi beningnya Sungai Bone, tidak jauh dari jembatan gantung Pohulongo di Desa Bangio, Kecamatan Pinogu, Gorontalo. Tujuan mereka hanya satu, menjaga hamparan pasir yang tidak jauh dari jembatan itu.

Di hamparan pasir tersebut, burung maleo [Macrocephalon maleo] meletakkan telur-telurnya. Madi [47], kolega Taufik dan Djaka, sudah lebih awal menggali lubang, mencari telur maleo. Telur-telur yang memang dipendam induk maleo, yang nantinya menetas dengan bantuan panas alami. Telur-telur yang didapat, dipindahkan ke bak penetasan semi alami yang dibangun swadaya, mereka bertiga.

Taufik merupakan petugas Resort Tulabolo-Pinogu, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone [TNBNW]. Sementara Djaka dan Madi adalah sebagian kecil keluarga yang tinggal di kawasan TNBNW. “Mereka telah lama hidup di penyeberangan ini, jauh sebelum jembatan gantung Pohulongo, 2013. Dulunya, mereka mengambil telur maleo untuk dikonsumsi, sekarang turut menjaga dan mengamankan lokasi,” ujar Taufik.

Maleo, burung khas Sulawesi | Foto: Dok. E-PASS/TNBNW

Lokasi peneluran ini, sekitar setengah hektar, berada di TNBNW. Jaraknya, 15 kilometer dari batas terluar kawasan dan hanya lima kilometer dari enclavepermukiman Pinogu. Di dalam taman nasional, ada enam lokasi peneluran aktif maleo, tiga di antaranya berbentuk sanctuary maleo, yaitu di Tambun, Muara Pusian, dan Hungayono. Sementara pengelolaan di Pohulongo yang melibatkan masyarakat, merupakan pendekatan istimewa yang dilakukan balai taman.

Taufik dalam tiga tahun terakhir memang tak henti mengunjungi Djaka dan Madi. Pendekatan intensif yang dilakukan Taufik ini, menghasilkan komitmen bersama, para perambah menjadi pendukung konservasi.

Mereka tidak hanya membersihkan lokasi peneluran maleo, tetapi membuat bak penetasan semi alami. Juga, merawat anak-anak maleo yang baru menetas untuk segera dilepasliarkan.

“Hingga April 2019, lebih 300 anak maleo kami lepasliarkan sejak ada bak penetasan pada Desember 2017,” ujar Taufik.

Maleo senkawor [Macrocephalon maleo] adalah burung khas Sulawesi. Telurnya seukuran telapak tangan orang dewasa, menetas dalam timbunan pasir. Bukan karena eraman induknya, melainkan dengan bantuan panas alam. Sang piyik [anakan maleo], butuh dua hari menggali pasir untuk bisa muncul ke permukaan. Lalu, melompat dan menghadapi kerasnya kehidupan, tanpa bantuan.

Anak maleo harus berjuang hidup sendiri begitu keluar dari permukaan pasir | Foto: Hanom Bashari

Lindungi maleo

Berjarak 200 kilometer dari Pinogu, di ujung Desa Molibagu, Sulawesi Utara, Asep Solihin [52] bersama anggota kelompok Modaga no Suangge juga telah melepasliarkan dua anak maleo. 9 Desember 2018, mereka mencatat sejarah, mengembalikan anak maleo yang menetas di bak semi alami, yang mereka buat sendiri.

Asep adalah Kepala Resort Pantai Selatan. Bersama anggotanya, dia meyakinkan masyarakat yang berkebun di sekitar lokasi peneluran maleo Batumangis, untuk menjaga maleo. Basri Lamasese, Dahwan Modeong, Ibrahim Thaib dan belasan anggota kelompok Modaga no Suangge berkomitmen menjaga maleo.

Butuh dua hari, anak maleo yang baru menetas menembus timbunan pasir untuk naik ke permukaan | Foto: Hanom Bashari

Nama Modaga no Suangge berarti “menjaga maleo” dalam Bahasa Bolaang, bahasa daerah di Molibagu. Kini, lebih 80 anak maleo telah mereka kembalikan ke alam liar.

Hal menarik adalah lokasi peneluran di Batumangis berada satu setengah kilometer dari batas TNBNW. Pengelolaan kawasan konservasi berporos Resort Basesed Management [RBM] membentuk para petugas resort tidak kaku melihat upaya konservasi.

Ini yang dirasakan Asep. Walau lokasi peneluran maleo di luar kawasan, konservasi tidak mengenal batas. Dia bertindak untuk kebaikan alam. Gerak RBM tidak saja menjadi penyelamatan maleo, namun juga kawasan dan seluruh kehidupan di bentang alam Bogani Nani Wartabone.

Telur maleo yang ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa | Foto: Hanom Bashari

Resort Based Management

Resort merupakan unit pengelolaan terkecil kawasan konservasi di Indonesia. TNBNW terdiri 11 resort yang terbagi tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional [SPTN]. Di sekitar kawasan, terdapat 140 desa yang berbatasan langsung dan lebih 300 desa berada di sekelilingnya.

Desa sekitar kawasan merupakan prioritas kerja pengelolaan taman nasional. Kepala Balai TN Bogani Nani Wartabone, drh. Supriyanto, mengatakan taman nasional tidak saja harus bekerja ke dalam kawasan, namun juga ke luar sekitar kawasan. “Masyarakat di luar kawasan adalah pihak kunci keberhasilan pengelolaan,” terangnya, Selasa [7 Mei 2019].

Upaya resort “kembali ke lapangan” telah digaungkan tiga tahun terakhir. Pengelolaan mengedepankan kebutuhan resort, dinamakan Resort Based Management [RBM], dinilai efektif.

Pengelolaan berbasis tapak atau resort ini sebenarnya sudah dirintis sejak 1990-an di TN Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Hal yang sama dilakukan oleh TN Alas Purwo, Ujung Kulon, dan Gunung Halimun Salak.

Pendekatan ini didasarkan kebutuhan resort, melalui penguatan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, ditunjang sistem informasi yang baik. Dengan begitu, data yang terkumpul menjadi informasi bermanfaat untuk pengelolaan kawasan.

Djaka berada di depan kandang semi alami maleo yang dibikin secara mandiri | Foto: Dok. E-PASS/TNBNW

Kerja resort dipadukan dengan dukungan kuat dari balai dan seksi yang menaunginya. Selain sebagai supporting team, seksi dan balai adalah pemompa semangat kerja para petugas. Tanpa seksi dan balai yang tangguh, tidak akan terwujud resort yang mandiri dan kuat. Resort menjadi pemain utama pengelolaan data kawasan konservasi.

“Kami ingin, semua resort memiliki data berkualitas, kontinyu, dan terkelola baik. Mitra kerja tidak memiliki data berbeda dengan yang kami miliki,” tegas Supriyanto.

Saat ini, Balai TNBNW telah mengembangkan sistem pengelolaan data berbasis aplikasi SMART [Spasial Montoring And Reporting Tool]. Aplikasi yang menghimpun data kerja para petugas resort, berupa data spasial [GPS] dan ragam atributnya. Telah terbentuk dan terlatih juga tim operator SMART di taman nasional ini sebanyak 15 personil yang tersebar di seluruh resort [11], SPTN [3], dan kantor balai [1]. Para operator adalah petugas resort itu sendiri.

Patroli terencana merupakah perwujudan kerja RBM, seperti yang dilakukan Taufik, meski RBM bukan semata patroli. Kerja dalam poros RBM juga termasuk kunjungan ke desa-desa penyangga kawasan, membangun komunikasi, dialog, dan berbagi informasi. Bahkan, tiap resort di TNBNW harus memiliki satu desa dampingan yang wajib dikelola intensif.

Kelompok Modaga no Suangge yang turut serta menjaga kelestarian maleo | Foto: Dok. E-PASS/TNBNW

Energi

Pendekatan RBM menuntut prinsip-prinsip kerja keterbukaan, kebersamaan, setia kawan, dan semangat terus belajar. Kehadiran petugas resort di lapangan, di dalam maupun sekitar kawasan telah memberikan dua dampak.

Pertama, petugas mengenal kawasan lebih rinci. Data diperoleh lebih banyak dan baik, sehingga informasi potensi dan masalah resort lebih jelas. Kedua, keberadaan petugas memiliki arti, negara hadir mengelola kawasan konservasi. Sejak Agustus 2017, Balai TN Bogani Nani Wartabone berkomitmen, tidak ada resort model. Semua resort adalah Resort model. Keberhasilan milik bersama.

Kemampuan teknis seperti pengenalan jenis satwa dan tumbuhan, penggunaan GPS dan binokuler, serta keterampilan penyadartahuan, pendampingan, fasilitasi dan advokasi merupakan keterampilan lapangan yang mutlak dimiliki semua petugas resort.

Telur maleo senkawor yang masih saja diburu | Foto: Dok. E-PASS/TNBNW

Bergerak bersama mitra

Salah satu mitra yang bergiat di TNBNW adalah Enhanching the Protected Area System in Sulawesi – project atau EPASS, proyek kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan United Nation Development Program, sejak 2015.

Tujuan utama EPASS adalah memperkuat efektivitas kawasan konservasi di Sulawesi guna merespon berbagai ancaman. EPASS dengan Balai TNBNW membangun, memperkuat, dan mengembangkan sistem pengeloalan kawasan berbasis RBM.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone seluas 282.007 hektar ini merupakan kawasan konservasi terbesar di Sulawesi, mewakili keragaman hayati dan habitat hutan hujan dataran rendah sekaligus dataran tinggi, hingga 1.970 mdpl. Maleo adalah salah satu satwa prioritas pengelolaannya.

Bogani Nani Wartabone dideklarasikan pada Kongres Taman Nasional Sedunia III di Bali, Oktober 1982. Saat itu, Indonesia menunjuk 11 taman nasional baru, menyusul lima taman nasional pertama yang telah ada sejak 1980. Salah satunya Bogani Nani Wartabone [pertama diresmikan bernama Dumoga Bone].

*Hanom Bashari, Pemerhati ekologi dan konservasi burung liar. Aktif di Enhancing Protected Area System in Sulawesi [E-PASS] for Biodiversity Conservation project, Bogani Nani Wartabone FCU, Kotamobagu, Sulawesi Utara

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot