UC News

Cantik dan Baik Hati. Tapi Diceraikan oleh Suaminya karena

Ningsih namanya. Gadis asli dari sebuah desa dimana aku melakukan KKN. Sosok gadis ini menarik perhatianku. Bukan karena fisiknya, karena sudah biasa aku temui gadis-gadis cantik di kota.

"Tetapi karena kecantikan hatinya." Begitu kata salah satu anak bujang tuan rumah di tempat kami menumpang. Dari anak bujang si tuan rumah itulah aku tahu ternyata Ningsih ini adalah bak kembang desa di sini. Menjadi buah bibir banyak cowok. Bahkan juga cowok-cowok dari desa sebelah.

Setelah melakukan penelusuran lebih jauh, aku menemukan beberapa fakta tentangnya. Ningsih bekerja sebagai guru honorer sekolah dasar negeri di desa itu. Kalau sore dia mengajar ngaji di surau. Kebiasannya yang bikin hatiku tersentuh adalah dia menyisihkan gaji untuk dibelikan bahan-bahan makanan, lantas dimasak, dan dikemas menjadi nasi bungkus.

Cantik dan Baik Hati. Tapi Diceraikan oleh Suaminya karena
sumber ilustrasi Ningsih dan nasi bungkus: tribunnews.com

Nasi bungkus-nasi bungkus itu kemudian dibagikan ke kaum dhuafa, anak yatim, pengemis dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.

Namun ada fakta selanjutnya yang tergolong aneh. Meskipun banyak yang jatuh cinta pada Ningsih. Belum ada yang berani melamarnya. "Kalau pengen tahu, coba aja datang ke rumahnya." Ucap si anak bujang tuan rumah. Rasa penasaranku pun bergejolak. Rasa penasaran yang sejujurnya karena aku juga jatuh cinta.

Di depan rumah ningsih aku melihat sosok tegap besar dan tampak garang. Tersinyalir itu adalah bapaknya. "Mau apa kamu ke sini?" Tanya si bapak ketus dengan mata menyelidik. Suaranya ngebas, rasa-rasanya sampai menjalar dan menggetarkan jantung.

Nyaliku langsung melempem bak kerupuk kecipratan air. Konyolnya aku waktu, tak sanggup berkata-kata. Terdiam, pucat pasi. Bak terhipnotis kumis tebal bapak Ningsih yang bergetar.

Namun beberapa saat kemudian entah energi dari mana aku berani berkata-kata. "Pak kemarin saya lihat Ningsih kesulitan bawa kantong plastik berisi nasi. Saya ingin membantunya kalau ntar bagi-bagi nasi lagi. Niat saya ke sini ingin berteman dengannya." Ucapku, yakin tak ada kesalahan diksi.

"Halah kamu bukan yang pertama. Sudah puluhan cowok bilang mau berteman. Dari gelagatmu saja saya bisa baca. Kamu jatuh cinta ya sama anak saya?" Seru si bapak menyerang dengan pertanyaan sangkaan.

"Iya pak, saya jatuh cinta." Ucapku lalu menggigit bibir.

"Mengapa kamu jatuh cinta pada anakku?" Tutur bapak menyodorkan pertanyaan lanjutan.

Aku terdiam sejenak. Pertanyaan yang tak boleh dijawab sembarangan. Karena pertanyaan itu punya maksud menggali sebuah alasan bin motif. Aku paham betul akan makna dari kata 'mengapa'.

"Karena dia cantik luar dalam pak." Jawabku menggunakan bahasa singkat padat dan jelas.

"Sudah ku duga. Tetapi bagaimana jika cantik luarnya hilang. Misalnya anakku kecelakaan dan mukanya cacat, apakah kamu masih mencintainya?" Tanya si bapak serius.

Aku berpikir keras. Karena hal inilah gak ada yang berani melamar Ningsih. Dia punya bapak yang super dalam arti sesungguhnya. Pertanyaan itu tidak dapat aku jawab.

Aku kalah bahkan sebelum bisa menginjakkan kaki ke dalam rumahnya. Usahaku terhenti hanya sampai di halaman rumahnya. Ningsih benar-benar bak mutiara original yang dijaga ketat. "Saya pamit pak. Saya tak jago berkata-kata. Tapi setidaknya hati ini legah karena sudah mengungkap rasa. Rasa yang sejatinya juga berasal dari Sang Pencipta Cinta. Pertanyaan bapak sangat berat. Sepertinya saya tidak layak untuk gadis sekelas anak bapak. Tapi setidaknya hari ini saya dapat pelajaran berharga. Terima kasih." Ucapku sambil pamit undur diri.

Aku menoleh ke arah rumah. Ningsih sedang menyiram bunga. Dia tersenyum tipis, menutup mulut dengan hijab putih. Mungkin dia sedang menertawakanku.

setahun kemudian..

Aku kaget bukan kepalang. Dapat kiriman via WA dari anak bujang si pemilik rumah yang kami tinggali saat KKN. "Bro, bunga desa sudah dipetik. Oleh anak orang kaya. Pengusaha tambang. Maharnya dua milyar, mobil mewah. Pestanya lima hari lima malam. Harta emang bisa bikin idealisme ancur yo." Tulis si anak bujang.

"Maksudnya ancur gimana bro. Pastinya tu cowok hebat bukan cuma dari hartanya. Kepribadiannya juga baik tentunya." Balasku.

"Baik dari mane bro. Baru tiga hari yang lalu Ningsih diceraikan! Sebelum itu sempat diperlakukan kasar bahkan secara fisik. Dia diceraikan karena alasan gak mau melayani kebutuhan biologis. Nah si Ningsih itu gak mau karena sedang haid bin datang bulan. Ini ceritanya nyebar luas karena sampai berurusan dengan penegak hukum dan masuk koran lokal." Lanjutnya menimpali disertai kiriman screenshot foto koran halaman depan.

Tak cukup sumber dari si anak bujang dan koran, aku pun mencari tahu lebih dari beberapa warga yang dulu sempat kenal dekat. Salah satunya ke pak RT. Ternyata apa yang dikatakan si anak bujang dan berita koran benar adanya.

Aku menatap langit-langit. Larut dalam lubuk pikiran. Menggaris-bawahi banyak hal dari kejadian ini. Memetik hikmah sebagai bekal mengarungi lautan kehidupan.

Sumber: Terinspirasi dari kejadian yang pernah penulis baca dan saksikan saat KKN

Sumber Lainnya: Tribunnews.com, hidayatullah.com

Topic:
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot