UC News

Diancam Celurit, Pasangan ABG di Madura Dipaksa Berhubungan Badan Dihadapan Preman

Diancam Celurit, Pasangan ABG di Madura Dipaksa Berhubungan Badan Dihadapan Preman
Ilustrasi kekerasan seksual - Istimewa

TRIBUNJAKARTA.COM - Seorang preman memaksa pasangan ABG yang sedang berduaan untuk berhubungan badan.

Preman tersebut diketahui membawa celurit untuk menakut-nakuti pasangan ABG tersebut.

Diketahui, preman yang menjadi tersangka dalam kasus ini adalah MR (45) warga Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura.

Sedangkan korban adalah dua ABG berinisial FA dan FN.

Kronologi kejadian

Saat itu, FA dan FN sedang berduaan di sekitar lokasi Bandara Trunojoyo, tepatnya Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, Pulau Madura.

Lalu preman tersebut mendekati sambil membawa sebilah celurit.

Preman itu lalu mengancam keduanya dan harus menuruti apa yang diinginkan.

FA dan FN pasangan yang sedang berpacaran ini, menjadi korban tindak pidana pemerasan oleh tersangka MR dengan harus membayar uang Rp 10 juta.

Tak cukup di situ, FA dan FN juga disuruh berhubungan badan di sekitar lokasi.

"Awalnya tersangka MR menghampiri kedua korban yang sedang berpacaran dengan membawa sebilah celurit, kemudian tersanga MR langsung mengambil kontak sepeda motor korban," kata Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi, Rabu (26/2/2020).

Tersangka MR, katanya, menanyakan pada korban sedang apa di tempat tersebut dan saat menjawab sedang duduk saja, tersangka langsung minta uang awalnya Rp 1 juta.

Setelah korban mengatakan tak punya uang, sehingga tersangka MR ini menyuruh korban untuk berhubungan badan.

"Apabila kedua korban ini tidak menuruti permintaan tersangka MR, maka diancam akan memanggil kepala desa dan warga sekitar," katanya.

"Dan tersangka posisinya waktu peristiwa itu memegang sebilah celurit, karena korban FA dan FN merasa ketakutan dan akhirnya menuruti keinginan tersangka untuk berhubungan badan yang ditonton oleh MR," terangnya.
Tak cukup disitu, setelah menuruti keinginan tersangka MR, korban harus memilih dua pilihan jika ingin bebas.

Pertama harus membayar uang Rp 10 juta, dan kedua korban harus membayar uang Rp 3 juta serta pacar koban FN harus berhubungan badan dengan tersangka.

"Karena korban merasa takut, korban harus membayar uang Rp 10 juta dan berjanji akan membayar besok sore. Dan tersangka meminta dua Hp milik FA dan FN ini sebagai jaminan," kata Deddy Supriadi.

Seteleh dua hp milik korban diambil oleh tersanga MR, kemudian tersangka membebaskan FA dan FN untuk pulang.

"Atas kejadian itu, korban melaporkan pada kami dan dengan mendasari tersangkaan pasal 368 KUHP dan pasal 289 KUHP.

Dari itu barang siapa dengan melawan hukum, melakukan pemerasan dan mengancam dengan kekeran dan berikutnya memaksa untuk bersetubuh diancam hukuman penjara 9 tahun," tegasnya.

Sering Beraksi karena Alasan Ekonomi

Sementara itu kepada polisi, MR mengaku pada polisi kerap memeras muda-mudi yang berpacaran di lokasi tersebut.

Motif ekonomi menjadi alasannya.

"Motifnya ekonomi dan yang bersangkutan ini kerja sebagai petani. Jadi saat lihat ada yang pacaran, langsung didekati dan diperas," katanya. (Ali Hafidz Syahbana)

Aksi Preman Remaja Sering Malak Warga Demi Eksistensi 'Geng'

Ajis Saputra (18), dan teman-temannya diduga kuat sebagai kelompok preman yang kerap beraksi di seputaran Alun-Alun Kecamatan Puger.

Mereka memeras orang yang sedang menikmati malam di ruang terbuka di pusat Kecamatan Puger tersebut.

Mereka meminta rokok, juga uang.

Ajis mengaku sudah lima kali memeras warga.

Peristiwa kelima kalinya sampai menyebabkan tewasnya Mardi Rahmad Dani (22) warga Desa Mojosari Kecamatan Puger, Sabtu (8/2/2020) malam.

Ajis mengakui perbuatannya saat Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal memimpin rilis pengungkapan peristiwa tewasnya Mardi di Mapolres Jember, Senin (10/2/2020).

"Lima kali malak (meras). Minta rokok atau uang," ujar Ajis.

Dia mengaku melakukan aksinya bersama teman-teman satu kelompoknya di seputaran Alun-Alun Kecamatan Puger.

Dia menuturkan, melakukan perbuatannya itu supaya 'geng' mereka terlihat keberadaannya.

Alfian menegaskan, perbuatan Ajis dan teman-temannya sudah meresahkan warga.

"Perbuatan mereka mengganggu Kamtibmas. Karenanya, ini menjadi momentum untuk meningkatkan patroli di sekitar Alun-Alun Kecamatan Puger, dan sejumlah tempat lain. Supaya peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi," ujar Alfian.

Dia menuturkan, geng Ajis memeras warga untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Namun karena perbuatannya itu, warga menjadi resah.

Puncak perbuatan geng tersebut terjadi pada Sabtu (8/2/2020) malam pukul 23.00 WIB.

Ketika itu, Ajis dan empat orang temannya sedang mabuk.

Mereka kemudian malak dua orang warga kembar bernama Yoga dan Yogi.

Mereka meminta rokok. Yoga dan Yogi tidak memberinya sampai terjadi cekcok mulut.

Mardi Rahmad Dani yang mengenal Yoga dan Yogi, menghampiri mereka.

Mardi mendekat sambil bilang 'bro, enek opo'.

Sapaan itu makin menyulut kemarahan Ajis dan kawan-kawan.

Mardi dan Ajis berkelahi memakai tangan kosong. Ajis kalah.

Dia pun meminta celurit kepada seorang temannya.

Ajis lantas menyabetkan celurit itu ke arah Mardi.

Mardi pun bersimbah darah. Peristiwa itu terjadi di hadapan istri Mardi yang sedang hamil muda.

Istri Mardi pun syok.

Apalagi Mardi dinyatakan meninggal dunia saat dalam upaya penyelamatan di sebuah klinik kesehatan di Puger.

Karenanya, Alfian akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan instansi terkait supaya pemerintah memperhatikan nasib istri Mardi.

"Supaya ada perhatian, dan keberlanjutan untuk istri korban. Supaya ada penanganan dan pendampingan sehingga bisa melahirkan secara aman," tegas Alfian. (Sri Wahyunik)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Detik-detik Preman Madura Pergoki ABG Pacaran Lalu Paksa Berhubungan Badan, 2 Ancamannya Menakutkan,

Topic: #madura #akbp
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot