UC News

Hingga Naik Ke Tiang Gantungan, Saddam Tidak Melepas Benda Ini. Ternyata Begini Alasannya!

Perjalanan hidup Saddam Hussein adalah perjalanan yang penuh petualangan. Lahir dari keluarga miskin, masa kecil Saddam dihabiskan bersama pamannya. beranjak dewasa, Saddam mengambil jalan sendiri, dan memasuki dunia aktivis, yang kemudian mendorongnya terlibat dalam aktivitas politik di negerinya.

Hingga Naik Ke Tiang Gantungan, Saddam Tidak Melepas Benda Ini. Ternyata Begini Alasannya!
Referensi pihak ketiga

Berulang kali terlibat dalam perebutan kekuasaan di negerinya, akhirnya Saddam berhasil menduduki posisi sebagai orang nomor satu di negeri kelahirannya, Irak. Kepemimpinannya sejak 1979 di Irak, tidak lah buruk. Sejarah mencatat prestasinya meningkatkan kesejahteraan rakyat Irak, dari rejeki petrodollar yang melimpah di perut bumi negerinya.

24 tahun berkuasa di Irak, membuat dirinya menjadi figur sentral. Kepemimpinannya berubah menjadi otoriter, dengan dukungan orang-orang yang loyal padanya, termasuk anak-anaknya. Hal itu justru yang kemudian menuntun Saddam Hussein menuju akhir kehidupan yang tragis.

Maret 2003, dengan bekal Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, Pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat menyerbu Irak. Hanya dalam hitungan hari, ibukota Baghdad berhasil dikuasai. Kekuasaan Saddam tumbang. Saddam dan orang-orang terdekatnya buron mencari selamat sendiri-sendiri.

Bulan Juni 2003, dua anak Saddam Hussein, Uday dan Qusay tewas setelah kontak tembak yang tidak seimbang dengan pasukan khusus Amerika Serikat. Ikut tewas dalam peristiwa tragis itu, cucu laki-laki Saddam, Mushtafa. Bulan Desember 2003, Saddam berhasil ditangkap hidup-hidup di desa Dwar, Tikrit. Tanpa perlawanan, Saddam dicokok di sebuah bunker sederhana di lahan pertanian milik Alaa Namiq. Saddam pun ditawan tentara Amerika Serikat, dengan penjagaan ketat.

Selama bertahun-tahun dalam penahanan tentara Amerika Serikat, seperti menghitung hari bagi Saddam. Dia sudah menduga, tak akan lolos dari hukuman mati atas tuduhan kejahatan kemanusiaan selama masa pemerintahannya. Dan vonis itulah yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim yang dibentuk oleh Pemerintah Sementara Irak.

Satu-satunya benda yang tidak pernah jauh darinya, adalah mushaf Al-Qur'an. Dalam setiap kehadirannya di persidangan, mushaf itu selalu ada di genggamannya. Bagi Saddam, kitab suci adalah pilar spiritual dan penyangga kehidupan Saddam Hussein di penjara. Kitab suci itu juga yang tetap dibawanya, hingga ke tiang gantungan, 30 Desember 2006.

Saat tali gantungan melilit di lehernya, Saddam menyerahkan kitab suci yang dipegangnya kepada salah satu eksekutor. Kita suci itu kemudian diserahkan kepada Awad Hamad al-Bandar, seorang loyalis Saddam yang pernah menjabat sebagai Kepala Hakim Pengadilan Revolusi Irak. Sang loyalis pun kemudian menjalani hukuman yang sama pada 15 januari 2007.


Sumber artikel :

toutiao.com/a6475191156148797966/

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot