UC News

Imlek dan Kisah Para Pemburu Angpao

Warga mengharap berkah di Wihara

Imlek dan Kisah Para Pemburu Angpao
Perayaan Imlek (Gabriella Thesa/era.id)

Jakarta, era.id - Gerimis tak menjadi halangan bagi ratusan warga Tionghoa untuk merapalkan doa yang menyatu dengan kepulan asap dupa di Wihara Dharma Bakti atau Klenteng Kim Tek Le. Kelenteng terletak di kawasan pecinan Petak Sembilan, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, Sabtu (25/1/2019).

Dengan khusyuk, mereka berdoa kepada para dewa dengan membakar dupa. Peribadatan ini dinilai sangat sakral untuk meraih keberkahan, terlebih hari ini bertepatan dengan perayaan tahun baru Imlek 2571.

Pengurus Wihara Dharma Bakti, Lucas Tjang mengatakan, masyarakat Tionghoa khususnya umat Khonghucu, memanjatkan doa di perayaan Imlek ini agar para dewa memberikan keberkahan di tahun Shio tikus logam.

Lucas menyebut, tikus logam memiliki arti keberkahan yang melimpah dan kerja keras. "Tikus itu binatang pekerja keras, gesit dan ulet. Jadi tahun ini tanggalan jatuh ke tikus logam. Maknanya membawa kesehatan dan kemakmuran berlimpah bagi kita semua," kata dia.


Lucas mengaku, tahun ini ada 5.000 hingga 6.000 umat Khonghucu yang datang dari berbagai daerah untuk berdoa. Bagi umat Khonghucu, khususnya saat Imlek ini ada beberapa ritual peribadatan yang wajib.

Umat yang datang harus membakar dupa dan berdoa di hadapan patung dewa atau rupang yang berada di 25 altar. Lucas mengatakan umat Khonghucu melakukan sembahyang di altar utama untuk kemudian berpindah ke altar selanjutnya. Pada setiap altar, rupang atau patung dewa sudah tertata rapih.

"Setelah itu ya melepas burung ya. Itu urutan setelah berdoa. Acara sembahyangnya demikian," papar Lukas.

Burung yang dilepaskan biasanya adalah burung gereja dengan jumlah banyak. Ritual ini pun bukan tanpa makna.

Seorang umat Khonghucu bermana Ricky yang ikut melepaskan burung gereja mengatakan ada banyak makna dari ritual ini seperti banyak rezeki dan umur panjang.

"Makin banyak (jumlah burungnya), semakin baik hokinya," kata Ricky.

Lucas menambahkan, ritual melepaskan burung ini tidak hanya dilakukan saat perayaan Imlek saja, tapi juga bisa dilakukan kapan pun. Dia menjelaskan, melepas burung gereja lebih diartikan kepada guna memberikan kehidupan.

"Berarti kan menghidupkan tidak memusnahkan. Kembali ke habitatnya masing-masing," katanya.

Lebih lanjut, Lucas mengaku yang datang ke Klenteng Dharma Bakti tak hanya warga keturunan Tionghoa maupun umat Khonghucu saja. banyak juga wisatawan dari mancanegara yang berkunjung ke Wihara Dharma Bakti. Mereka datang untuk mengambil momen perayaan tahun baru Imlek di Jakarta

Berkah Imlek Bagi Warga Sekitar

Warga sekitar juga ikut 'kebagian' berkah setiap kali perayaan Imlek. Hal itu terlihat dari bayaknya orang-orang yang mengantre angpao di halaman Wihara Dharma Bakti.

Mereka rela mengantre bahkan hingga menginap demi memburu angpao. Mereka berbaris rapi di sisi kiri Wihara Dharma Bakti. Para pengharap angpao ini berasal dari berbagai daerah dan beragam usia, mulai dari lansia, dewasa hingga anak-anak.

"Bagi angpaonya koh," ujar mereka tiap kali ada jemaat yang melintas.

Banyaknya warga yang berburu angpao terkadang menyulitkan petugas untuk menertibkan mereka. Para petugas yang terdiri dari keamanan internal, Satpol PP dan polisi ini sesekali menertibkan warga yang berdiri dan menjegat umat yang sudah selesai beribadah.

"Ayo mundur, mundur, yang tertib dong," teriak salah seorang petugas.

Suasana sempat sedikit tidak kondusif karena warga saling rebutan. Akhirnya angpao didistribusikan lewat petugas keamanan.

"Ini Rp10.000 ya seorang. Ayo tertib duduk saja ini kita bagikan," kata petugas.

Pengurus Wihara Dharma Bakti, Lucas Tjang mengaku tidak masalah dengan kehadiran ribuan pengemis. Menurut dia, momen Imlek adalah sarana untuk berbagi kepada sesama.

Namun demikian, dia berpesan agar para pemburu angpao bersikap tertib sehingga tidak mengganggu ibadah.

"Itu dari keikhlasan hati para umat. Kita persilakan secara sukarela. Ini (pengemisnya) ada dari warga sini, ada dari luar. Mereka datang mengharapkan rezeki," ucap Lucas.

Seorang ibu bernama Suryanti bersama kedua anaknya sengaja berburu angpao. Saban Imlek, ia sengaja ke Wihara untuk berburu angpao.

'Mangkal' dari pagi, hingga siang dia dan anaknya sudah mengumpulkam angpao Rp300.000.

"Ya bersyukur aja enggak apa-apa, lumayan ini. Semoga berkah," katanya.

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot