UC News

Jadi Korban G30SPKI, Siapa Sangka Jendral Ini Dulunya Adalah Pendeta di Jerman

Tahun 1965, terjadi peristiwa menggegerkan di Indonesia. Di malam jahanam itu, terjadi penculikan dan pembunuhan kepada para perwira TNI AD. Salah satu yang menjadi korban adalah D.I Pandjaitan.

Jadi Korban G30SPKI, Siapa Sangka Jendral Ini Dulunya Adalah Pendeta di Jerman
https://img.okeinfo.net/content/2017/09/29/337/1785685/melihat-perjalanan-karir-cemerlang-mayjen-di-pandjaitan-pernah-bertugas-di-jerman-dan-menimba-ilmu-di-as-kaivXtC3U0.jpg


Saat peristiwa tersebut terjadi, Pandjaitan menjabat sebagai asisten Ahmad Yani. Gugur dalam G30S PKI, Pandjaitan kemudian dianugerahi sebagai pahlawan revolusi. Ada banyak kisah menarik dari perjalanan hidup Pandjaitan.

Ia lahir Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925. Di masa penjajahan Jepang, Pandjaitan bergabung bersama tentara PETA dengan pangkat Mayor. Mengawali karir di Pekanbaru, Pandjaitan fasih berbahasa Jerman.

Tahun 1956-1952. Pandjaitan menjadi atase militer RI di Bonn, Jerman Barat. Selama di Jerman ini pula Pandjaitan menjadi pendeta, berkhotbah di gereja seperti dilansir dari historia.id (03/04/2019).

DI Pandjaitan, atase militer Indonesia di Jerman, memenuhi undangan Pendeta De Kleine untuk berkhotbah dalam bahasa Jerman di Wuppertal. Foto: Dok. keluarga DI Pandjaitan. (Historia.id)

Saat Yani diangkat menjadi Panglima AD, ia memberikan rekomendasi nama untuk menjadi asisten. Salah satu nama tersebut adalah Pandjaitan.

Yani merekomendasikan Pandjaitan sebagai asisten intelijen kepada Soekarno. Mulanya Bung Karno skeptis dengan rekoemendasi Yani. Sang proklamator curiga jiga Pandjaitan dekat dengan tokoh PRRI.

“Saya mendapat laporan, bahwa jij ada berhubungan dengan tokoh-tokoh PRRI?” tanya Soekarno kepada Pandjaitan.

http://1.bp.blogspot.com/-aEL3YHLveVA/VQ0FP-6a8hI/AAAAAAAAD_8/mxjv3lni6Jc/s1600/DIP%2Bdan%2Bibu%2B1951.jpg

Ia pun tak menampik hal tersebut. Pasalnya selama di Bonn, Pandjaitan sempat berkomunikasi dengan Alex Kaliwarang dan juga Achmad Sukendro. Meskipun begitu, Pandjaitan bersumpah untuk mengabdi kepada NKRI. Soekarno pun tidak keberatan dan menyetujui Pandjaitan untuk menjadi asisten Ahmad Yani.

“Saya sudah disumpah sebagai perwira, Pak, bahwa saya tetap setia kepada Pancasila, Presiden, Panglima Tertinggi, dan Pemerintah. Sekian,”

Di detik-detik akhir hidupnya, Pandjaitan rajin membaca buku keagamaan. Di tahun 1965, Pandjaitan menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum diberondong senjata, Pandjaitan mengucapkan doa sebelum berpulang.

Topic: #doa
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot