UC News

Kandidat Presiden AS Cuti Kampanye untuk Latihan Militer di Indonesia

Kandidat Presiden AS Cuti Kampanye untuk Latihan Militer di Indonesia

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramFacebook MessengerEmail

Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Tulsi Gabbard, mengambil jeda dua minggu dari masa kampanyenya untuk mengikuti latihan militer di Indonesia. Gabbard yang masih bertugas aktif bersama Garda Nasional Hawaii akan mengikuti pelatihan kontra-terorisme dan respons bencana bersama militer Indonesia. Gabbard mewakili distrik kongres kedua Hawaii di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, dan pertama kali terpilih pada tahun 2013.

Oleh: Brian Pascus (CBS News)

Tulsi Gabbard, anggota Partai Demokrat dari Hawaii dan kandidat presiden Amerika Serikat, akan mengambil dua minggu absen dari kampanyenya pada hari Senin (12/8) untuk melapor tugas aktif dengan Garda Nasional Tentara Hawaii di Indonesia, ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan Caitlin Huey-Burns dari CBS News.

“Saya akan meninggalkan kampanye selama beberapa minggu dan mengenakan seragam tentara saya untuk melanjutkan misi latihan bersama di Indonesia,” katanya. Gabbard juga mengambil cuti selama dua minggu untuk ikut tugas aktif pada tahun 2017.

“Saya mencintai negara kami. Saya suka bisa melayani negara kami dalam banyak hal termasuk sebagai seorang tentara,” katanya. “Jadi, sementara beberapa orang memberi tahu saya, ya ampun ini adalah saat yang mengerikan untuk meninggalkan kampanye, tidak bisakah Anda menemukan jalan keluar darinya? Anda tahu bukan itu masalahnya.”

Advertisement

“Saya tidak benar-benar berpikir tentang bagaimana ini akan mempengaruhi kampanye saya. Saya berharap dapat memenuhi layanan dan tanggung jawab saya.”

Gabbard mewakili distrik kongres kedua Hawaii di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, dan pertama kali terpilih pada tahun 2013. Dia adalah satu dari tiga Demokrat yang mencalonkan diri sebagai presiden dengan pengalaman militer, bersama dengan Walikota Pete Buttigieg dan Anggota Kongres Joe Sestak.

“Anda tahu, itu bagian yang sangat hargai dan saya bersyukur bisa melayani negara kami,” katanya.

Gabbard bertugas di Garda Nasional Tentara Hawaii di Irak dari tahun 2004 hingga tahun 2005. Ia melayani penempatan kedua di Kuwait pada tahun 2008 dan tahun 2009, bekerja dengan Tentara Kuwait. Minggu ini, dia akan menuju ke Hawaii untuk persiapan sebelum keberangkatannya ke Indonesia pada hari Rabu (14/8) di mana unitnya akan berpartisipasi dalam latihan pelatihan yang mencakup kontraterorisme dan respons bencana.

“Ada persediaan dan logistik serta seragamnya dan baru saja mendapatkan semua yang saya butuhkan untuk dikemas dan bersiap-siap,” katanya. “Dan kemudian ada persiapan sebenarnya yang kita butuhkan untuk latihan pelatihan ini. Menyatukan perintah operasi dan semua bagian latar belakang yang berbeda yang kita butuhkan sehingga setelah kita sampai di sana kita akan dapat terjun langsung ke pekerjaan yang harus kita lakukan.”

Amerika Serikat telah bekerja dengan pasukan khusus Indonesia untuk kontra-terorisme dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Merujuk penempatannya yang akan datang ke Indonesia, Gabbard membahas sudut pandangnya sebagai seorang prajurit dan pejabat terpilih.

“Tidak mungkin untuk memisahkan pengalaman yang saya miliki di Komite Urusan Luar Negeri, di Komite Angkatan Bersenjata, karena kita akan melalui latihan-latihan ini dan saya pikir itu adalah nilai tambah dalam menyatukan kedua perspektif yang berbeda ini–yang dimiliki oleh para pembuat kebijakan di Washington dan seorang prajurit. ”

Gabbard berpendapat bahwa salah satu kualifikasi utamanya untuk kepresidenan terletak pada pengalamannya sebagai seorang prajurit serta keahlian kebijakan luar negerinya. Meski begitu, Gabbard mendapat kecaman karena melakukan perjalanan tanpa pemberitahuan ke Suriah yang dia lakukan pada tahun 2017 untuk bertemu dengan Bashar al-Assad di Aleppo. Kunjungan ini menuai kritik dari Partai Demokrat dan Republikan, karena tidak disetujui oleh kepemimpinan Demokrat. Senator Kamala Harris, salah satu saingan Gabbard untuk nominasi Demokrat, memanggilnya “pembela Assad,” frasa yang ditolak Gabbard.

“Ini adalah noda yang tidak berdasar yang telah digunakan untuk mencoba merusak kampanye saya, sayangnya, oleh orang-orang yang menolak untuk benar-benar memperdebatkan masalah ini,” katanya kepada Huey-Burns. “Assad adalah seorang diktator brutal yang serupa dengan Saddam Hussein, menjadi diktator brutal selayaknya Gadhafi. Itu tidak berarti bahwa kita harus mengirim lebih banyak saudara dan saudari berseragam untuk pergi dan berperang, bertindak sebagai polisi dunia memuncaki diktator brutal ini. ”

Gabbard mengatakan dia lebih suka diplomasi dalam menghadapi ancaman global yang dihadapi Amerika Serikat. Dia bahkan mengatakan dia mendukung keputusan Presiden Donald Trump untuk bertemu dengan Kim Jong Un dari Korea Utara tanpa prasyarat dan berjanji dia akan terus melakukannya jika terpilih sebagai presiden.

“Saya tidak menyesal dan tidak meminta maaf karena mengejar diplomasi, memahami bahwa satu-satunya alternatif untuk diplomasi adalah perang,” katanya kepada CBS News. “Kami membutuhkan para pemimpin yang akan memiliki keberanian untuk bertemu dengan para diktator brutal, untuk bertemu dengan musuh dalam mengejar keamanan nasional kami, dalam upaya menjaga rakyat Amerika yang aman, dan dalam mengejar perdamaian.”

Keterangan foto utama: Kandidat Presiden AS untuk pilpres 2020, Rep. Tulsi Gabbard berbicara di Presidential Gun Sense Forum di Des Moines, Iowa, AS, 10 Agustus 2019. (Foto: Reuters/Scott Morgan)

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramFacebook MessengerEmail

BERLANGGANAN

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot