UC News

Kekeringan Naikkan Harga Sembako

Kekeringan Naikkan Harga Sembako

JAKARTA (HN) -

Kekeringan berkepanjangan memicu kenaikan harga komoditas cabai dan bawang merah. Beberapa wilayah dan daerah akan berpotensi mengalami kekeringan berat, khususnya Jawa dan Madura.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti mengatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait untuk pemetaan wilayah yang diprediksi defisit barang kebutuhan pokok.

Menurut dia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau 2019 terindikasi lebih kering dibandingkan tahun 2018. "Kami akan terus memantau pergerakan harga bersama dinas yang membidangi perdagangan di (seluruh) daerah," ujar Tjahya kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta, Minggu (7/7).

Saat ini, kata dia, pasokan dua komoditas tersebut berkurang, khususnya di Brebes, Jawa Tengah. Pemerintah akan berupaya mempermudah pasokan bawang merah dari sentra lain seperti dari Bima (Nusa Tenggara Barat) dan Enrekang (Sulawesi Selatan).

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan stok bahan pangan memasuki musim kemarau. Cadangan stok bahan pangan di Kementan dinilai masih cukup memadai. "(Saat ini) yang naik hanya cabai (merah), (komoditas) yang lain tidak ada kenaikan," kata Agung.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai merah keriting Rp 65 ribu, cabai merah besar (TW) Rp 70 ribu, cabai rawit merah Rp 63 ribu, cabai rawit hijau Rp 63,5 ribu, dan bawang putih Rp 41 ribu.

Menurut Mansuri, kenaikan komoditas di tingkat pasar dipicu kemarau berkepanjangan. Produksi pangan terganggu dan menyebabkan keterbatasan komoditas bahan pangan di pasar.

"Memang secara keseluruhan produksi berkurang dan stok tidak banyak di pasar sehingga harga terus naik dan sulit turun," katanya.

Abdullah memprediksi akan ada kenaikan harga dari komoditas cabe pada bulan Juli. Ke depan, pedagang berharap harga komoditas segera turun dan pemerintah memberikan subsidi silang dari daerah penghasil komoditas ke daerah dengan permintaan cukup besar.

Presidium Agri Watch Dean Novel mengatakan, kemarau menyebabkan penurunan produktivitas komoditas di beberapa daerah sentra. Harga bahan pokok naik.

Selain itu, kenaikan biaya logistik sewa transportasi angkutan barang menyebabkan kenaikan harga pada beberapa komoditas. Berdasarkan data Kemendag, biaya transportasi logistik komoditas pangan naik 30 hingga 35 persen.

Dean mencontohkan, biaya pengiriman jagung dari Lombok Timur ke Blitar, Jawa Timur sebelum Ramadhan sebesar Rp 270/kg. Namun setelah Idul Fitri naik menjadi Rp 350/kg. "Biaya tinggi belum dapat ditekan hingga saat ini," ujar Dean.

Penurunan produktivitas dan kenaikan biaya logistik, kata dia, akan memengaruhi kenaikan harga komoditas bahan pangan ke depan. "Kami menyarankan pemerintah perlu mengelola stok pangan lokal dengan membeli hasil panen saat musim panen raya dan membuat penyimpanan kapasitas besar sesuai karakter komoditas."

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot