UC News

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Jadi Contoh Keberhasilan Sabuk dan Jalan China

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Jadi Contoh Keberhasilan Sabuk dan Jalan China

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramFacebook MessengerEmail

Setelah penundaan cukup lama, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akhirnya berhasil dimulai tahun lalu. Proyek bernilai $6 miliar ini akan dijadikan contoh oleh China dalam KTT Sabuk dan Jalan minggu ini, sebagai jawaban atas kritik tentang tingginya utang dan kurangnya transparansi di proyek Sabuk dan Jalan dan upayanya untuk memfokuskan kembali program itu pada pembiayaan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi hijau, dan kualitas tinggi. Presiden Jokowi dikabarkan akan memimpin delegasi Indonesia di KTT tersebut.

Oleh: Fanny Potkin dan Tabita Diela (Reuters)

Di pelosok desa di Jawa Barat, dua pekerja berpakaian oranye berunding dalam bahasa Mandarin mengenai rencana peletakan rel di hamparan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Keduanya adalah karyawan China Railway Engineering Corp (CREC), dan sebelumnya telah bekerja di proyek kereta cepat di Uganda, bagian lain dari inisiatif “Sabuk dan Jalan”, proyek infrastruktur China senilai multi-miliar dolar untuk menghubungkan China dengan Asia, Eropa, dan sekitarnya.

Tertunda selama hampir tiga tahun karena masalah kepemilikan tanah, konstruksi pada jalur Jakarta-Bandung sepanjang 142 kilometer akhirnya dimulai pada 2018.

Advertisement

Ketika China menjadi tuan rumah KTT kedua antara negara-negara yang menjadi bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan minggu ini, China kemungkinan akan memamerkan proyek jalur kereta cepat Jakarta-Bandung ini bersama dengan keberhasilannya baru-baru ini untuk mendapatkan kembali proyek Jalur Kereta Api Pantai Timur Malaysia setelah negosiasi berbulan-bulan.

Para analis mengatakan kedua proyek tersebut akan dipamerkan sebagai jawaban China atas kritik tentang tingginya utang dan kurangnya transparansi di proyek Sabuk dan Jalan dan upayanya untuk memfokuskan kembali program itu pada pembiayaan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi hijau, dan kualitas tinggi.

Kementerian luar negeri China mengatakan pekan lalu bahwa China akan “bekerja sama dengan semua pihak untuk memberi manfaat bagi orang-orang di seluruh dunia dengan bersama-sama mempromosikan pengembangan proyek Sabuk dan Jalan yang berkualitas tinggi sesuai dengan kondisi masing-masing negara”.

Proyek Sabuk dan Jalan adalah kebijakan utama Presiden China Xi Jinping, tetapi telah menjadi kontroversial di banyak ibu kota Barat, terutama Washington, yang memandangnya sebagai sarana untuk menyebarkan pengaruh China di luar negeri dan membebani negara-negara dengan utang yang tidak berkelanjutan melalui proyek-proyek yang tidak transparan.

Menurut rancangan komunike yang dilihat oleh Reuters, para peserta pada KTT minggu ini akan setuju pada pembiayaan proyek yang menghormati tujuan-tujuan utang global dan mempromosikan pertumbuhan hijau.

“Ini membantah berita negatif baru-baru ini mengenai proyek Sabuk dan Jalan, dan tantangan yang dihadapi proyek ini di beberapa negara,” kata Peter Mumford di konsultasi Grup Eurasia.

Di Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamed telah setuju untuk melanjutkan proyek kereta sepanjang 668 kilometer setelah memotong biaya proyek dari $16 miliar menjadi $10,7 miliar.

“Risiko untuk China adalah bahwa negara-negara lain, setelah melihat keberhasilan Mahathir, akan mencoba untuk mengadopsi taktik negosiasi ulang serupa pada proyek-proyek Sabuk dan Jalan, yang dapat memperlambat kemajuan proyek di negara lain,” kata Mumford.

Yang pasti, belum ada tanda-tanda negara tuan rumah proyek Sabuk dan Jalan yang mencoba untuk menegosiasikan kembali kesepakatan yang telah mereka tandatangani dengan China. Analis mengatakan China kemungkinan akan menggunakan kesediaannya untuk bekerja dengan negara-negara mitra dan membuat proyek itu layak untuk berkembang.

JALUR KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG

Pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, dari total biaya $6 miliar, Bank Pembangunan China akan memberikan pinjaman $4,5 miliar dengan bunga 2 persen, menurut prospektus proyek yang dilihat oleh Reuters. Sisanya, 25 persen, akan didanai oleh ekuitas yang disediakan oleh konsorsium.

Pinjaman ini tidak akan memiliki jaminan berdaulat, yang merupakan bagian yang paling kontroversial dari proyek-proyek Sabuk dan Jalan, karena mereka mengalihkan risiko ke pemerintah negara-negara mitra.

China memenangkan proyek kereta cepat ini pada tahun 2015, mengalahkan Jepang, setelah persaingan sengit demi menunjukkan keahlian kereta api berkecepatan tingginya kepada pelanggan internasional.

“China ingin menunjukkan bahwa kereta cepatnya lebih baik daripada Jepang … kami meminta tarif serendah mungkin dan mereka memberi 2 persen,” Rini Soemarno, menteri BUMN, mengatakan kepada wartawan awal tahun ini.

Persyaratan finansial proyek tersebut menjadi perdebatan selama kampanye pilpres 2019 antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang berjanji akan meninjau proyek itu jika ia berhasil meraih kemenangan.

Di lokasi proyek, pekerja China di sana mengatakan kepada Reuters bahwa mereka telah berada di lokasi selama satu tahun dan diperkirakan akan tinggal di sana sampai proyek selesai pada tahun 2021. Empat kota satelit baru akan dibangun oleh konsorsium kereta api di sepanjang rute.

Pemerintah Jokowi saat ini menawarkan hingga $91 miliar dalam proyek-proyek infrastruktur kepada perusahaan-perusahaan China, menurut Luhut Pandjaitan, menteri koordinator untuk urusan maritim, yang mengatakan para pejabat China telah melakukan tur ke daerah-daerah untuk mencari proyek yang akan didanai.

Dua pejabat tinggi mengatakan kepada Reuters bahwa Jokowi bermaksud untuk memimpin delegasi ke forum Sabuk dan Jalan, di mana beberapa proyek tersebut diharapkan akan ditandatangani.

Kepala BKPM, Thomas Lembong, mengatakan kepada Reuters bahwa dia mengharapkan KTT pekan ini menjadi titik balik, “Sabuk dan Jalan 2.0” dengan China yang lebih bersedia untuk bernegosiasi.

“China akan melakukan apa pun untuk menjadikan proyek Sabuk dan Jalan sukses, bahkan jika itu membuatnya lebih profesional, transparan, dan lebih kooperatif,” katanya.

JALUR KERETA CEPAT MALAYSIA-SINGAPURA

Dihidupkannya kembali proyek kereta Malaysia kemungkinan akan memberi China harapan untuk mengamankan proyek kereta api lainnya: kereta cepat antara Kuala Lumpur dan Singapura, yang ditunda oleh Mahathir setelah ia awalnya mengancam akan membatalkannya.

“China kemungkinan akan mengambil hati dari hasil ECRL dan memfokuskan upaya mereka untuk memastikan bahwa kereta cepat Malaysia-Singapura tetap dilanjutkan,” Harrison Cheng, seorang analis di Control Risks, mengatakan kepada Reuters.

China berniat dianugerahi proyek untuk membuktikan bahwa keahlian keretanya dapat memenangkan saingan di negara dunia pertama seperti Singapura, dengan diplomatnya menggambarkan proyek itu sebagai “proyek yang harus dimenangkan”.

Selain CREC, konsorsium dari Jepang, Korea Selatan, Eropa, Singapura dan Malaysia juga akan ikut berlomba, jika proyek ini dihidupkan kembali.

Sebuah sumber di pemerintah Singapura mengatakan Malaysia harus membayar denda yang signifikan jika membatalkan proyek itu.

Mahathir dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong akan mengambil bagian dalam KTT Sabuk dan Jalan minggu ini, yang akan menjadi kesempatan China untuk mendesak dihidupkannya kembali proyek tersebut.

Keterangan foto utama: Mock-up Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung di ruang pameran di dekat lokasi pembangunan terowongan Walini di Kabupaten Bandung Barat, 21 Februari 2019. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramFacebook MessengerEmail

BERLANGGANAN

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot