UC News

Kisah Mulyono, Driver Pertama Gojek yang Dekat Nadiem Makarim: Jadi Tukang Kebunnya, Kenapa Enggak?

Kisah Mulyono, Driver Pertama Gojek yang Dekat Nadiem Makarim: Jadi Tukang Kebunnya, Kenapa Enggak?
Sosok Mulyono (50), mengenakan jaket pertamanya di Gojek di kediamannya, Balekambang, Condet, Jakarta Timur pada Selasa (22/11/2019).

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Mulyono (50) menjadi driver pertama Gojek sebelum perusahaan berbasis aplikasi itu sebesar saat ini.

Pria yang sebelumnya bekerja sebagai seorang ojek pangkalan itu, bergabung di Gojek saat kantor itu bertempat di sebuah garasi mobil sekitar tahun 2010.

Mulyono menjadi salah satu dari 20 pendaftar angkatan pertama yang bekerja sebagai ojek dalam jaringan (daring) berseragam hijau itu.

Ia pun turut menjadi saksi bagaimana perjuangan empunya perusahaan kala itu, Nadiem Makarim, merintis usaha Gojek sampai sebesar sekarang.

Menurutnya, dulu tak sulit untuk menemui Nadiem Makarim di kantor Gojek.

Nadiem juga sering berinteraksi dengan ojek daring, termasuk dirinya saat itu.

Dalam suatu pertemuan di sekitar tahun 2011, Nadiem pernah mengatakan ke sejumlah ojek daring bahwa Gojek akan menjadi perusahaan yang besar.

Mulyono sempat sangsi dengan pernyataan Nadiem kala itu lantaran Gojek masih terbilang perusahaan kecil.

Apalagi, banyak penolakan dari orang-orang, terutama ojek pangkalan, dengan kehadiran Gojek.

"Pernah kita (dengan ojek daring lainnya) kumpul bareng bersama pak Nadiem di kantor. Pak Nadiem bilang begini, teman-teman kalian harus ingat, Gojek akan dikenal di seluruh Indonesia," kenang Mulyono kepada TribunJakarta.com di kediamannya, kawasan Balekambang, Condet, Jakarta Timur pada Selasa (22/11/2019).

Mulyono tak percaya dengan omongan Nadiem kala itu.

"Saya nyeletuk, mimpi! Saya bilang ke pak Nadiem," katanya.

Walakin, apa yang diungkapkan Nadiem saat itu perlahan berbuah hasil nyata.

Mulyono mengaku salut dengan keyakinan penuh Nadiem melihat masa depan Gojek.

"Sesuatu yang belum ada di pikiran kita, tapi pak Nadiem sudah bicarakan," tambahnya.

Dekat dengan Nadiem

Nadiem Makarim mengaku diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bergabung dalam Kabinet Kerja jilid ll.

Mulyono mengaku dekat dengan Nadiem Makarim.

Ia sesekali bertegur sapa dengan Nadiem via telepon atau chatting.

"Sering enggak, sesekali saya menanyakan kabar di wa. Nyapa aja," bebernya.

Sebab, konsistensinya sebagai mitra setia di Gojek membuat Mulyono dikenal Nadiem.

Tak jarang, pertemuan Nadiem dengan Mulyono mengaduk-aduk emosi.

"Kalau ketemu saya, Pak Nadiem selalu memeluk saya dan selalu meneteskan air mata. Ya mungkin pola pikirnya, ini loh orang-orang pendobrak saya (dari awal)," ungkapnya.

Bahkan, karena kekaguman Mulyono kepada sosok Nadiem, anak kelimanya diberi nama Nadiem Saputra.

Mulyono memberi nama itu agar anaknya tumbuh besar seperti Nadiem Makarim.

Nadiem pun hanya tertawa mendengar namanya digunakan untuk anak kelima Mulyono.

Sosok Mulyono (50), mengenakan jaket pertamanya di Gojek di kediamannya, Balekambang, Condet, Jakarta Timur pada Selasa (22/11/2019).

"Saya pingin otaknya seperti beliau dan tidak sombong. Nadiem baru umur dua tahun setengah saat ini," bebernya.

Nadiem Diangkat Jadi Menteri, Mulyono Mau Jadi Tukang Kebunnya

Nadiem Makarim menerima tawaran kursi menteri di Kabinet Kerja Jilid II dari Presiden Joko Widodo pada Senin (21/11/2019) kemarin.

Menanggapi hal itu, driver yang dikenal sebutan 001 itu sudah tak heran.

Sebab, kualitas Nadiem mumpuni untuk menjabat sebagai menteri.

"Pak Nadiem dijadikan menteri, kapasitasnya memang ada. Saya kenal pak Nadiem enggak sehari dua hari aja, pak Jokowi tidak salah," katanya.

Kendati demikian, tak dimungkiri masih banyak komunitas pengendara Gojek yang juga menentangnya jadi menteri.

Namun, Mulyono melanjutkan berkat adanya Gojek, banyak orang dapat pekerjaan.

"Mitranya sekarang dua juta lebih, itu kan mengurangi pengangguran," tambahnya.

Mulyono ingin terus mengabdi bekerja bersama Nadiem Makarim.

Bila ditawarkan kerja di rumah Nadiem meski hanya sekadar menjadi tukang kebun pun ia terima.

"Jadi tukang kebunnya, kenapa enggak? Itu suatu kebanggaan buat saya. Berarti pengabdian saya ke pak Nadiem terus berlanjut."

"Misalnya, saya enggak bisa naik motor lagi, pak Nadiem masih ingat saya dan diajak jagain rumahnya. Itu kan masih bentuk pengabdian saya ke beliau," ujarnya.

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot