UC News

Kisah Pesepakbola Dunia di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan adalah bulan yang paling dinanti-nanti umat Muslim di seluruh dunia. Ini adalah bulan suci, saat di mana umat muslim dilatih menahan lapar dan haus serta tentunya kesabaran menghadapi apapun masalah yang ditemui mereka.

Di bulan ini pula umat muslim bisa berintropeksi, berserah diri kepada Allah SWT, atas apa yang mereka sudah lakukan di 11 bulan sebelumnya, berharap bisa mendapat hidayah kemenangan serta di hari Idul Fitri kelak. Di bulan yang suci ini pula, umat muslim berlomba-lomba mencari hidayah serta pahala dari Yang Maha Kuasa.

Bulan Ramadan pun tak lepas juga dari kehidupan para pesepakbola top dunia. Tak sedikit para penggiat lapangan hijau yang beragama Islam dan tentunya harus berpuasa di tengah aktivitasnya sebagai atlet. Bukan pekerjaan mudah tentunya bagi para pesepakbola itu untuk menjalankan puasa sekaligus tetap berlatih.

Untungnya bulan Ramadan jatuh ketika musim kompetisi reguler sudah usai, seperti halnya di musim 2016/2017 ini. Pada bulan Ramadan tahun ini, untungnya tidak ada turnamen internasional seperti halnya Piala Dunia atau Piala Eropa. Mungkin hanya Piala Konfederasi yang “mengganggu” namun itu pun dimulai tanggal 19 Juni atau sepekan sebelum datangnya Lebaran.

Sebelum itu, mungkin hanya final Piala FA, final Copa del Rey, dan final Liga Champions yang berlangsung di bulan Ramadan. Tentu saja ini bukan hal yang mudah untuk para pemain seperti Karim Benzema (Real Madrid), Arda Turan (Barcelona), serta tiga pemain Arsenal Skhodran Mustafi, Mesut Oezil, serta Granit Xhaka yang ambil bagian di laga-laga tersebut.

Belum lagi jika kita berbicara soal Kualifikasi Piala Dunia 2018 yang menyinggung negara-negara Iyang punya para pemain muslim baik itu di Afrika, Asia, maupun Eropa. Sebut saja striker Nigeria, Ahmed Musa, yang harus tetap berlatih keras sambil menjalankan puasa demi membawa Nigeria memenangi laga kualifikasi kontra Afrika Selatan akhir pekan ini.

Bagi Musa, berpuasa di tengah padatnya aktivitas sebagai pesepakbola tidaklah mengganggu. Menurut pemain Leicester City itu, berpuasa bisa jadi sarana untuk self-healing alias pemulihan diri setelah melalui musim yang melelahkan di Inggris dan Eropa lalu.

“Saya pikir Ramadan tidak berpengaruh apapun pada saya. Kami sudah menjalankan ini sejak lama,” ujar Musa kepada Supersport.com, Jumat (9/6/2017).

Kisah Pesepakbola Dunia di Bulan Ramadan

Image: Ahmed Musa | Supersport.com

“Ramadan memang sangat sulit dilakukan tapi kami sudah terbiasa melakukan itu. Jadi tidak ada yang baru lagi,” sambungnya.

“Jadi saya rasa kami tidak perlu melewatkan Ramadan hanya karena sepakbola, karena sebagian besar pesepakbola pun bermain di bulan ini.”

“Saya bermain di Piala Dunia saat bulan Ramadan di bawah mantan pelatih saya Stephen Keshi dan turun selama 90 menit di seluruh partai.”

Mendengar pernyataan Musa ini, tentu tidaklah mengherankan jika bulan puasa bukanlah suatu halangan bagi para pesepakbola untuk tetap bermain. Justru ibadah dan pekerjaan bisa dilakukan secara bersamaan. Bicara soal Piala Dunia 2014, di turnamen besar tiga tahun lalu itulah banyak pemain muslim harus berpuasa sambil membela tim nasional masing-masing.

Pasalnya beberapa negara seperti Bosnia-Herzegovina, Aljazair, Kamerun, Iran, Pantai Gading, dan Nigeria, dihuni cukup banyak pemain muslim. Belum lagi menghitung negara-negara Eropa daratan seperti Prancis, Swiss, dan Jerman yang juga punya pemain keturunan beragama Islam.

Sebut saja Edin Dzeko, Mesut Oezil, Yaya Toure, Xherdan Shaqiri, Sami Khedira, dan Benzema harus berjibaku membawa negaranya melaju jauh di turnamen itu. Apalagi Piala Dunia saat itu digelar di Brasil yang notabene bertemperatur tinggi di musim panas dan mayoritas penduduknya adalah umat Nasrani.

Image: Timnas Prancis | Gettyimages.com

Untuk diketahui, bulan puasa di Brasil dijalankan selama 13,5 jam, tidak berbeda jauh dengan di Indonesia. Bukan tugas mudah tentunya bagi para pemain menjaga kondisi fisik mereka jika melihat iklim yang lembab dan panas di negara itu.

Image: Yaya Toure | TheNational.ae

“Berpuasa? Anda sudah lihat kan cuacanya? Saya bisa mati,” tutur gelandang Pantai Gading, Yaya Toure, yang memilih untuk melewatkan puasa di Piala Dunia 2014 lalu seperti dikutip thenational.ae, (22/6/2014).

Beberapa negara yang memang punya dasar Islam kuat bahkan memberlakukan aturan keras soal kewajiban puasa bagi para pemainnya. Pada 2010 silam, eks pemain terbaik Asia asal Iran, Ali Karimi, malah dipecat oleh klub lokal asal Teheran karena menolak untuk berpuasa. Kasus itu ramai dibahas di sana dan bahkan sampai ke level Federasi Sepakbola Iran.

Image: Ali Karimi | Iransportpress.com

Menurut penuturan eks pelatih Timnas Iran, Carlos Quieroz, berpuasa di tengah padatnya jadwal kompetisi disebut bukan masalah besar bagi para pemainnya. Padahal Queiroz dan staf kepelatihannya sempat khawatir soal fisik pemainnya yang bakal menurun.

“Para pemain Iran sudah sangat berpengalaman untuk mengatasi persoalan puasa dan juga olahraga. Selama kualifikasi, kami kadang menghadapi masalah budaya ini, jadi ini sudah ada sejarah panjangnya dan menambah pengetahuan. Saat ini, hal itu justru bukanlah masalah,” tutur Queiroz seperti dilansir AFP.

Sama halnya dengan Queiroz, pelatih Pantai Gading di Piala Dunia 2014, Sabri Lamouchi, juga mengkhawatirkan hal serupa ketika sebagian para pemainnya memilih untuk berpuasa di tengah padatnya jadwal turnamen.

“Faktanya memang benar, Ramadan semakin dekat, dan ada beberapa pemain muslim di skuat kami, tapi mereka mampu mengatasi situasi seperti ini. Untuk saat ini kami hanya perlu fokus ke pertandingan,” papar Lamouchi.

Bukan tugas yang mudah tentunya bagi para pelatih untuk bisa mengatasi situasi seperti ini karena sudah menyangkut persoalan kepercayaan masing-masing para pemain. Padahal menurut penelitian dari Rumah Sakit Ortopedi dan Medis Olahraga di Qatar, Aspetar, pada 2013 silam menyebut bahwa meminum air dalam jumlah banyak pun bukan solusi terbaik bagi para atlet mengingat itu akan memicu keluarnya air urin dengan volume lebih besar serta mengganggu tidur.

“Kami belum membicarakan soal itu. Tapi ini adalah bulan yang suci dan tentu saja Allah akan membantu kami menghadapi situasi seperti apapun,” tutur bek Pantai Gading, Kolo Toure, di Piala Dunia 2014 lalu.

Namun, tak sedikit juga pemain yang akhirnya harus tunduk pada aturan pelatih seperti halnya Sulley Muntari pada 2009. Pada sebuah laga Serie A kontra Bari, Muntari yang bermain untuk Inter Milan memilih tetap berpuasa dan akhirnya Jose Mourinho selaku pelatih menggantinya di jeda babak.

“Bulan puasa ini datangnya tidak ideal bagi para pemain untuk bisa turun bertanding,” tutur Mourinho seperti dilansir Tuttomercato.com

Tidak hanya Piala Dunia 2014 yang bersinggungan dengan bulan Ramadan, bahkan Piala Dunia 1986 Meksiko tepat digelar di bulan suci itu. Ada dua negara Islam yang ikut di sana yakni Aljazair dan tim debutan Kuwait.

“Agama para pemain sebenarnya memperbolehkan mereka untuk makan dan minum, tapi mereka memilih tidak melakukannya. Mereka sebenarnya bisa mengganti puasa setelah turnamen, tapi malah memilih tetap menjalankannya. Ini bukan sesuatu yang wajar dalam sebuah pertandingan, tapi Anda harus menerima itu karena ini adalah budaya serta agama mereka,” papar pelatih Kuwait, Carlos Alberto Parreira, kala itu.

Sebelum bulan Ramadan, Kuwait sempat menahan imbang Cekoslowakia 1-1 dan kalah 1-4 dari Prancis. Saat tengah berpuasa di laga final grup menghadapi Inggris, Kuwait malah kalah 0-1. Para pemain sama sekali tidak makan dan minum, yang mana itu disebut Pareira sangat mempengaruhi performanya.

Di era sepakbola modern saat ini, boleh jadi masalah seperti itu masih bakal ditemui oleh kebanyakan pelatih dan pemain. Tapi semua itu kembali ke diri pemain sendiri apakah mereka benar-benar mampu menjalankan ritual puasa sambil tetap berlatih normal seperti biasa.

“Ini soal bagaimana Anda mempersiapkannya dengan tepat. Umat Muslim hanya berpuasa selama siang hari, jadi saya hanya perlu sahur dengan menu yang tepat. Saya rutin melakukan itu dan memastikan segalanya berjalan dengan baik,” ujar eks pemain West Bromwich Albion yang kini menjadi mualaf, Nathan Ellington, seperti dikutip FourFourTwo, Jumat (9/6/2017).

“Jujur ini tidak sulit karena sebenarnya banyak salah persepsi soal ini di luar sana. Orang berpikir kami berpuasa untuk menyiksa diri tapi itu tidak benar. Kami melakukan itu karena ini sudah kewajiban kami dan menjadi muslim yang baik,” sambung pemain yang kini memperkuat Crewe Alexandra itu.

Menurut Anda sendiri, bagaimana?

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot