UC News

Lima Penyebab Melesatnya Fintech di ASEAN

Lima Penyebab Melesatnya Fintech di ASEAN
Ilustrasi: 123RF

Pertumbuhan industri financial technology (fintech) terjadi sangat pesat di wilayah ASEAN, juga Indonesia. Ekosistem ini pun tumbuh sangat cepat. Misalnya saja pada sektor pinjaman online, Otoritas Jasa Keuangan mencatat ada sekitar 164 fintech yang terdaftar/berizin yang beroperasi di Indonesia. Mereka pun telah menyalurkan dana hingga Rp 81,5 triliun hingga Desember 2019.

Di dalam sebuah diskusi, Kepala Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mencatat ada lima penyebab industri ini mekar sangat besar di ASEAN. “Menurut data yang dikeluarkan oleh University of Cambridge, fintech dapat berkembang pesat di ASEAN karena lima hal, yakni kondisi ekonomi yang kuat, penetrasi mobile phone yang sangat besar, penetrasi internet yang terus meluas, tingginya tingkat migrasi masyarakat dari daerah rural ke urban area, serta literasi populasi anak muda di ASEAN yang sangat baik,” ujar Ryan.

Studi lain menyebutkan, fintech ini akan membentuk jasa keuangan yang baru. Tentu, produk yang dihasilkan akan bersinggungan dengan perbankan. Beberapa produk yang populer adalah produk pendanaan, pengiriman, pembayaran, dan consumer banking lainnya.

“Industri ini ramai dipadati oleh konsumen individual. Selain itu, para pelaku UKM yang tidak tersentuh oleh perbankan juga menjadi segmen besar pelaku fintech. Ekosistem ini yang membuat fintech mekar luar biasa,” lanjut Ryan.

Dominasi konsumen individu di ASEAN sendiri mencapai 19% hingga 52% di berbagai jenis produk, mulai dari digital lending, digital payment, hingga produk fintech berbasis artificial intelligence lainnya.

“Perkembangan teknologi yang sangat cepat ini dibutuhkan kejelian dari otoritas untuk mengantisipasi terjadinya fraud. Selain itu, keterbukaan antara pelaku industri dengan otoritas juga harus diwujudkan,” tutup Ryan.

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot