UC News

Masya Allah! Jantung Berdebar Kencang Mendengar Indonesia Lakukan Divestasi Freeport

Masya Allah!  Jantung Berdebar Kencang Mendengar Indonesia Lakukan Divestasi Freeport
Referensi pihak ketiga

Kabar bahagia kembali datang dari seputar PT. Freeport Indonesia, pasalnya PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Persero dipastikan batal melakukan pinjaman ke sejumlah bank asing dalam proses akuisisi PT Freeport Indonesia.

Obligasi global yang dterbitkan senilai US$4 miliar atau sekitar Rp58,4 triliun, bahkan pihak Holding PT dikabarkan sudah mengantongi dana yang berasal dari surat utang tersebut. Hanya saja, proses pemenuhan syarat untuk membeli saham mayoritas belum rampung.

Referensi pihak ketiga

Dilansir dari cnnindonesia.com, Selasa (28/11/2018 Direktur Keuangan Holding PT Inalum Orias Petrus Moedak di Shangri-La Hotel Surabaya, Senin, (26/11.2018) mengatakan, "Nggak jadi kami, jadi pinjaman itu kan sebagai standby dan itu sudah kami lakukan, kemudian saat penerbitan bond (surat utang) itu kami nggak menarik pinjaman (bank asing) lagi, karena uang dari bond itu juga udah masuk US$4 miliar."

Mendapatkan saham PT. Freeport dalam jumlah mayoritas bukan perkara mudah, Pemerintah harus melalui negosiasi yang cukup alot dengan perusahaan induk Freeport. Hingga tercapai Kesepakatan antara perusahaan induk Freeport yaitu Freeport McMoran dengan Holding BUMN Tambang, PT Inalum.

Sebenarnya perjuangan pemerintah untuk menguasai mayoritas saham Freeport membuat banyak orang berdebar kencang, selama 50 tahun saham Freeport hanya dikuasai negara sebesar 9 % an. Ahlamdulillah, Masya Allah, tercapainya kesepakatan sekarang merupakan lompatan yang besar bagi sektor pertambangan Indonesia.

Referensi pihak ketiga

Mengutip kompas.com, Selasa (27/11/2018) Orias Petrus Moedak, Direktur Keuangan Holding PT Inalum Persero, menuturkan banyak yang tidak percaya bahwa negara benar-benar membeli saham tambang emas di Irian Jaya itu, "Sebelumnya memang banyak yang tidak percaya negara akan membeli sebagian besar saham PT Freeport Indonesia, tapi itu benar-benar terjadi. "

Saat ini proses divestasi PT Freeport Indonesia tinggal menunggu izin antitrust dari sejumlah negara seperti China, Korea, dan Filipina.

Izin antitrust negara Filipina sudah turun seharusnya awal pekan ini, Izin antitrust memang memerlukan waktu, apalagi PT Freeport sedang dalam proses pemindahan kepemilikan. Izin antitrust dibutuhkan untuk menjaga persaingan usaha antarnegara penghasil tembaga.


READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot