UC News

Mengapa Luar Angkasa Gelap Padahal Banyak Bintang?

Mengapa Luar Angkasa Gelap Padahal Banyak Bintang?
Info Astronomy - Bintang-bintang merupakan objek yang bisa memancarkan cahaya melalui proses yang dikenal sebagai fusi nuklir. Dengan cahaya yang dipancarkannya, bintang terdekat planet kita, Matahari, bisa membuat Bumi menjadi terang di siang hari.

Nah, kalau satu Matahari saja bisa menyinari Bumi, mengapa ada banyak bintang di alam semesta tapi tetap membuat luar angkasa gelap? Ada yang janggal nih sepertinya, gumam Lucinta, mantan korban pembodohan sains yang kini jadi anti-NASA garis keras.

Bentar, bentar.. daripada kita sudah berprasangka buruk dengan NASA (yang padahal tidak ada hubungannya antara NASA dengan luar angkasa yang gelap), kita cari tahu dulu deh alasan ilmiah di balik fenomena ini.

Singkatnya, luar angkasa gelap ya karena luar angkasa hanyalah ruang kosong. Tidak ada atmosfer. Tidak ada partikel udara. Di Bumi, kita bisa melihat segala hal (yang tidak memancarkan cahaya sendiri) ketika hal-hal tersebut memantulkan cahaya yang diterimanya.

Sebagai contoh, mengapa kita bisa melihat tangan sendiri? Itu karena ada sumber cahaya lampu yang menyinari tangan. Coba matikan lampunya, tutup pintu kamar sampai suasana benar-benar gelap, apakah tanganmu masih terlihat?

Kita kembali lagi deh ke pelajaran masa SMP dulu. Masih ingatkah kamu penjelasan mengapa langit berwarna biru di siang hari? Yup, di Bumi, kita memiliki atmosfer yang berisikan udara. Udara sendiri terdiri dari beberapa partikel, seperti debu, atom gas, dll.

Ketika cahaya dari Matahari menyinari Bumi, mengenai udara dan partikel-partikel lainnya di atmosfer Bumi, hal yang menarik terjadi.
Saat cahaya Matahari (yang bersinar dalam warna putih) masuk ke atmosfer Bumi, maka cahayanya itu kemudian dihamburkan ke segala penjuru oleh partikel-partikel di udara tadi. Fenomena ini sama seperti cahaya Matahari yang menembus prisma. Bedanya, saat menembus partikel udara di atmosfer, cahaya Matahari akan terpecah-pecah ke dalam berbagai gelombang yang berbeda-beda.

Gelombang cahaya panjang, yakni warna merah, jingga, kuning akan terus bergerak lurus. Sementara gelombang cahaya pendek, yakni biru (dan juga hijau), akan berhamburan di atmosfer. Hal inilah yang menyebabkan langit tampak berwarna biru daripada warna lainnya di siang hari.

Eh, apa hubungannya dengan luar angkasa yang gelap?

Dari penjelasan ilmiah mengapa langit bisa berwarna biru pada siang hari di atas, kita bisa mencatat bahwa cahaya dapat dipantulkan ke segala arah setelah menyentuh objek yang dapat menghamburkannya.

Nah, di luar angkasa, tidak ada objek yang dapat membuat cahaya bisa terhamburkan.
Perhatikan ilustrasi di atas deh. Sumber cahaya (yang dalam hal ini yang dimaksud adalah bintang) tidak bisa terhamburkan karena berada di ruang vakum, ruang hampa. Hanya cawan hijau yang bisa terlihat karena cawan tersebut adalah satu-satunya objek yang menghamburkan cahaya dari bintang.

Sekarang, kamu mungkin bertanya-tanya bagaimana bisa kita melihat komet dan ekornya? Atau bagaimana kita bisa melihat kawah-kawah di Bulan ketika bahkan Bulan tidak memiliki atmosfer?

Kita melihat komet karena ia memantulkan cahaya dari Matahari, ditambah fakta bahwa ekor komet terdiri dari partikel debu, air, dan es. Partikel-partikel ekor komet juga memantulkan cahaya dan dengan demikian, bisa terlihat oleh kita.

Dan meskipun Bulan tidak memiliki atmosfer, namun Bulan merupakan objek yang bisa memantulkan cahaya yang diterimanya. Apakah tanganmu memiliki atmosfer untuk bisa dilihat di bawah sinar lampu?

Jadi, itulah mengapa luar angkasa gelap. Intinya adalah, walaupun banyak bintang, tidak ada yang bisa menghamburkan cahaya dari bintang tersebut karena luar angkasa merupakan ruang vakum.

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot