UC News

Mengenal 5 tipe insomnia

Peneliti menemukan lima tipe insomnia. Masing-masing memiliki serangkaian gejala yang unik. Tergantung jenisnya, diperlukan perawatan medis yang berbeda untuk mengatasinya.

Mengenal 5 tipe insomnia
Ilustrasi penderita insomnia.

Peneliti menemukan lima tipe insomnia. Masing-masing memiliki serangkaian gejala yang unik. Tergantung jenisnya, diperlukan perawatan medis yang berbeda untuk mengatasinya.

Susah tidur memengaruhi orang dengan cara yang sangat berbeda. Bagi sebagian orang, insomnia dipicu paparan cahaya biru gawai, pada orang lain, insomnia menandakan depresi.

University of Pennsylvania menemukan satu dari empat orang mengalami insomnia setiap tahun. Sementara American Academy of Sleep Medicine melaporkan sekitar 10 persen orang akan mengalami insomnia kronis yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejala umum insomnia biasanya meliputi kesulitan tidur dan tetap tidur, juga bangun terlalu awal, dan kelelahan siang hari. Perempuan punya kecenderungan lebih tinggi mengalami insomnia dibandingkan laki-laki.

Karena ada begitu banyak faktor yang bisa menyebabkan insomnia, mengidentifikasi dan mengatasi masalah tidur tidak selalu mudah. Oleh sebab itu, lewat studi terbaru, peneliti mengungkap cara berbeda dalam melihat insomnia. Mereka mengategorikannya ke dalam lima tipe.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Netherlands Institute for Neuroscience (NIN). Hasil riset diterbitkan dalam The Lancet Psychiatry pada 7 Januari.

Mereka menganalisis kisah hidup dan kepribadian 2.224 peserta yang didiagnosis dengan insomnia pada kurun waktu 2010 hingga 2016.

Kesimpulannya, insomnia adalah masalah kesehatan yang lebih kompleks dari yang diperkirakan banyak orang. Gejala dan gangguan kesehatan ini bisa bervariasi tergantung pada jenis insomnia.

Berikut penjelasannya menurut penulis utama riset, Tessa Blanken.

Tipe 1

Peneliti mendeskripsikan penderita insomnia tipe 1 sangat stres. Mereka sering melaporkan merasa sangat aktif atau cemas sebelum tidur. Secara umum, mereka menunjukkan prevalensi depresi yang lebih tinggi sepanjang hidup dibandingkan dengan subtipe lain.

Tipe 2

Penderitanya punya banyak kesamaan dengan tipe 1. Mereka juga melaporkan kegelisahan sebelum tidur dan pengaruh negatif.

Namun, tidak menunjukkan kurangnya kebahagiaan umum yang sama dengan tipe 1. Mereka sangat tertekan, tetapi masih menunjukkan tanggapan utuh terhadap emosi menyenangkan.

Kelompok ini juga melaporkan tingkat insomnia lebih tinggi karena stres daripada subtipe lain. Blanken berhipotesis, mereka mungkin mengalami jenis insomnia psikofisiologis. Stres karena tidur itu sendiri bisa membuat mereka tetap terjaga.

Tipe 3

Sangat ditentukan tingkat kepositifan mereka yang rendah. Mereka mengalami stres seperti tipe 2, tapi tidak sensitif terhadap perasaan positif.

Tipe ketiga memiliki pengaruh positif yang berkurang dan kebahagiaan subyektif sangat rendah. Mereka cenderung memiliki tingkat depresi jauh lebih rendah dibandingkan dengan tipe 2 meskipun tingkat stresnya secara umum sama.

Tipe 4

Tidak seperti tipe satu, dua, dan tiga, tipe empat cenderung tidak terlalu tertekan. Alih-alih, pendorong utama insomnia adalah peristiwa kehidupan.

Misalnya kesulitan finansial atau masalah dalam hubungan mengakibatkan insomnia yang lebih lama dan berkelanjutan. Mereka yang berada dalam kategori ini juga melaporkan lebih banyak kenangan buruk selama masa kanak-kanak.

Tipe 5

Seperti tipe empat, penderita insomnia tipe lima juga mengembangkan insomnia karena peristiwa hidup. Namun, kenangan buruk masa kanak-kanaknya lebih sedikit daripada tipe empat.

Penderita insomnia tipe lima menunjukkan tingkat aktivasi perilaku yang rendah. Biasanya tipe empat dan lima cenderung mengalami insomnia di kemudian hari, secara spesifik setelah berusia di atas 40 tahun.

Peneliti melakukan EEG, pemindaian yang mengukur gelombang otak pada peserta studi. Mereka menemukan masing-masing jenis insomnia merespons rangsangan eksternal secara berbeda.

Ketika para ilmuwan menguji para peserta lima tahun setelah temuan awal, mayoritas tetap menderita jenis insomnia yang sama. Ini menunjukkan bahwa insomnia sudah "berlabuh di otak."

Tidak hanya mengidentifikasi lima jenis insomnia, para peneliti menemukan perawatan medis yang paling efektif juga berbeda antara satu tipe insomnia dan lainnya. Sebagai contoh, beberapa tipe tampak lebih responsif terhadap terapi perilaku kognitif, sementara yang lain tampak lebih responsif terhadap obat tidur.

“Meskipun kami selalu menganggap insomnia sebagai satu kelainan, itu sebenarnya mewakili lima kelainan yang berbeda. Mekanisme otak yang mendasari mungkin sangat berbeda," jelas para peneliti dalam siaran pers.

Temuan baru ini bisa membuat perbedaan besar untuk penelitian lebih lanjut seputar insomnia, dan pengembangan potensi perawatannya. Meski terobosan tentang insomnia ini adalah yang pertama dari jenisnya, dokter dan peneliti diharapkan akan terus mendapatkan pemahaman lebih baik tentang jenis-jenis insomnia.

Topic: #insomnia
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot