UC News

Menikmati Kesunyian di Swiss van Java

Menikmati Kesunyian di Swiss van Java
Foto : FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO

Penat dengan kesibukan kerja, waktunya refresh dengan menikmati suasana kampung nan asri. Keindahan alam kampung di Kabupaten Garut menjadi pesona yang menyegarkan mata dan fikiran. Kota kecil yang berjuluk Swiss van Java ini tetap mempertahankan alam sebagai penarik minat warga luar daerah untuk mampir dan menginap.

Pesona kampung yang khas banyak ditemui di Garut. Di wilayah Kamojang Garut, lokasi unik seperti itu mudah ditemui. Salah satunya adalah Sampireun. Letaknya di Jalan Raya Samarang Kamojang kilometer 4, Ciparay, Samarang Kabupaten Garut.

Tempat ini sudah ada hampir 20 tahun lalu, dan menjadi favorit pelancong yang mengunjungi Kota Dodol ini. Dari pusat ibu kota Garut, dapat ditempuh sekitar 10 kilometer. Jalan menuju lokasi sudah mulus, bahkan kendaraan besar sejenis bus juga bisa masuk.

Sampireun dalam bahasa Indonesia berarti singgah. Kam­pung ini mengajak untuk singgah, menginap dan menikmati suasana kampung yang mengelilingi danau.

Danau menjadi sumber air bagi kampung tersebut dan juga masyarakat sekitar di luar kam­pung. Untuk mengairi sawah atau sebagai tempat pemandian umum.

Kampung Sampireun memang bukan kampung alami yang mun­cul dari berkumpulnya masyarakat desa. Tempat ini adalah kawasan wisata yang dibuat seolah mirip perkampungan. Karena menjadi lokasi menginap, fasilitasnya pun sekelas hotel berbintang. Namun demikian, suasana kampung tetap menjadi daya tariknya.

Luas dari kampung ini sekitar 3,5 hektar dan memiliki 7 mata air. Mata air inilah yang mengisi danau di tengah kampung Sampireun. Rumah kampung dari kayu nam­pak mengelilingi danau. Jumlahn­ya mencapai puluhan unit bebagai ukuran. Arsitek bangunan sengaja dibuat seperti bangunan rumah Sunda, khususnya rumah-rumah orang kaya Sunda zaman dahulu.

Rumah yang lebih pas disebut bungalow tersebut didesain seb­agai rumah panggung tatar Sunda Parahayang, semakin menegaskan kampung Sunda zaman dahulu. Bukan hanya tempat menginap, seluruh bagian bangunan di­kampung ini juga dibuat dengan nuansa Sunda kampung.

Seperti Restauran Seruling Bambu, Bale Putri Amantie, Warung Kopi Kampung yang menjadi salah satu tempat untuk berinteraksi an­tara warga sekitar dengan para tamu yang sedang berkunjung ke kawasan kampung ini. Lalu ada juga Taman Sanghyang Tradisional dan Taman Sanghyang Dayu Garden. Semua memiliki fungsi tersendiri.

Kampung ini pun dikelilingi pula oleh pepohonan pinus, yang membuat suasana semakin sejuk dan adem, layaknya di sebuah hutan kecil.

Saat Koran Jakarta menyam­bangi kampung ini, keindahan alam kampung sudah terasa sejak pintu masuk. Pepohonan rindang serta bangunan di dalamnya may­oritas menggunakan dinding kayu. Sehingga pantas saja jika kampung ini identik menjadi tujuan pasan­gan yang berbulan madu.

Suasana sepi sangat terasa, hanya alunan musik Sunda yang terdengar dari pengeras suara me­nyebar di kampung ini. Suasana hangatpun terasa dengan sambu­tan pekerja di kampung ini. Minu­man bajigur menjadi penyambut pengunjung.

Dermaga untuk Berswafoto

Sebelum memasuki bungalow, suasana kampung ternyata lebih menarik untuk dieksplore. Sejak masuk mata terasa segar dengan keindahan tatanan kampung. Dari pintu masuk, kakipun beranjak un­tuk segera berkeliling kampung.

Tempat menarik pertama adalah dermaga. Dermaga dibuat menjorok ke tengah danau, sekitar 20 meter. Di ujung der­maga ternyata cukup luas. Di sana terdapat seperangkat alat gamelan Sunda.

Rupanya dari dermaga inilah alunan musik khas Sunda diper­dengarkan setiap sore menjelang malam. Pemain gamelan setiap saat hadir untuk menghibur pengunjung Kampung Sampireun. Bahkan pengunjung pun bisa ber­interaksi langsung. Jika permainan musik Sunda berakhir, pengunjung bisa mencoba peralatan gamelan.

Dari dermaga pemandangan sekitar kampung terbentang luas. Tempat ini tentunya menjadi favor­it pengunjung untuk mengambil foto-foto suasana kampung, apa­lagi kalau bukan untuk ber-selfie. Jalan menuju dermaga pun cukup unik. Di kanan dan kirinya keluar air mancur, dan cukup indah untuk menjadi latar berswafoto.

Puas mengelilingi kawasan Sampireun, waktunya mengistira­hatkan kaki di bungalow rumah kampung. Karena memang meru­pakan lokasi penginapan, fasilitas kamar yang tersedia juga setingkat dengan kamar hotel mewah.

Tempat favorit pengunjung ternyata adalah balkon kamar. Be­rada di pinggir membuat balkon kamar langsung bersentuhan den­gan danau. Memang masih lebih tinggi dari permukaan danau, sekitar dua meter. Dari balkon ini pengunjung bisa turun untuk ber­perahu. Rupanya memang sangat disayangkan jika tidak mengek­splore tempat indah ini.

Setiap kamar memang terse­dia sebuah perahu sampan. Nah, dengan perahu inilah pengunjung kembali bisa beraktivitas berkelil­ing kampung dari perahu.

Saat turun rupanya nampak ri­buan ikan mas warna-warni sangat jinak. Mereka terlihat kelaparan. Dengan melemparkan potongan daun saja, ribuan ikan akan datang mendekat dan berebut untuk mengejar daun itu.

Pengunjung sebenarnya mendapatkan paket makanan ikan dari pengelola, dan dapat digu­nakan untuk memanggil ikan-ikan berkumpul di bawah bungalow.

Memberi makan ikan juga men­jadi atraksi tersendiri. Ikan lahap memakan dan berebutan menim­bulkan suara deburan kecil. Ikan ukuran kecil hingga yang besar semua mendekat, berebut makan.

Usai memberi makan ikan, mulailah untuk berperahu. Namun tetap berhati-hati, sebab danau ini sangat dalam. Memang disayangkan pengelola Sampireun tidak menyediakan lifevest untuk perlindungan pengunjung saat menikmati berperahu.

Perahu sampan berukuran ramping akan mudah untuk di­dayung. Tapi jika tidak bisa, boleh saja meminta bantuan dari pe­kerja Kampung Sampireun untuk membantu mendayung berkelil­ing danau. Namun tentunya akan lebih menantang jika berusaha mendayung sendiri.

Saat awal mencoba, perlu tena­ga ekstra untuk mengayuh. Jika sudah jalan, tenaga mendayung bisa lebih ringan, tinggal menga­rahkan saja. Selama mendayung ikan mas warna-warni akan setia mengikuti. Apalagi jika sambil ber­perahu, kita juga menebar pakan ikan. tgh/R-1

Rumah Apung “Biduk Cinta”

Berkeliling menyapa satu persatu pengunjung, mampir ke dermaga dan berhenti sejenaklah di rumah apung tengah danau. Keuntungan tersendiri bagi pengunjung yang memang berani mendayung hingga ke tengah danau, yakni menikmati rumah apung ini.

Bangunan terapung di tengah danau ini mirip biduk cinta. Ada tulisan “LOVE’ di samping bangunan terapung.

Mampir sejenak di tempat ini cukup menyenangkan. Dari tengah danau, duduk di kursi bambu dan dipan dengan kasur empuk berleha-leha. Dan sekali lagi ini adalah tem­pat menarik lainnya untuk berfoto selfie.

Saat malam, tempat ini akan semakin romantis dengan kerlap-kerlip lampu di sekel­ilingnya. tgh/R-1

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot