UC News

Ngeri! Fakta Sejarah tentang Praktik Menguliti Kepala Lawan dari Suku Indian

Ngeri! Fakta Sejarah tentang Praktik Menguliti Kepala Lawan dari Suku Indian

Berdasarkan catatan sejarah, tiap kali mendapatkan kemenangan, suku Indian di Amerika Utara selalu mengambil kulit kepala lawannya. Hal itu dilakukan sebagai simbol keperkasaan dan kekuasaan dari suku Indian. Tentu saja hal itu membuat suku Indian Amerika Utara ditakuti oleh lawan-lawannya. Tapi, tahukah kamu tentang sejarah kebiasaan mengambil kulit kepala lawan dari suku Indian ini?

Seperti yang dilansir dari laman Aneh di Dunia, berikut deretan fakta sejarah tentang praktik menguliti kepala lawan. Ternyata bukan hanya suku Indian saja yang melakukan praktik ini. Penasaran? Yuk, Keepo!

Membunuh dan menguliti kepala orang Meksiko demi kekayaan

www.anehdidunia.com

Pada waktu dulu, seorang pria Texas bernama John Joel Glanton mencari tambahan penghasilan dengan cara membunuh orang Indian Apache dan mengambil kulit kepala mereka. Pada saat Perang Amerika-Meksiko meletus, orang Indian Apache diketahui ikut terjun ke dalam medan pertempuran.

Militer AS tidak mau melihat orang Indian Apache selama pertempuran berlangsung sehingga diutuslah Glanton untuk membunuh orang-orang Apache yang dilihatnya.

Pada awalnya semua berjalan lancar dan sesuai dengan keinginan. Akan tetapi, ketika Glanton mulai sukar untuk menemukan Indian Apache, maka terbesitlah di benak Glanton untuk membunuh orang-orang Meksiko serta mengambil kulit kepala mereka dan menyebutnya sebagai bagian dari suku Indian Apache.

Melihat tingkah Glanton yang demikian membuat pemerintah Chihuahua, Meksiko merasa geram. Pemerintah pun menjanjikan hadiah besar kepada siapa saja yang berhasil menghabisi Glanton. Pada akhirnya Glanton berhasil dibunuh oleh suku Indian Yuma ketika tengah tertidur pada malam hari.

Normalnya suku Indian Yuma adalah suku yang cinta damai dan lebih suka menghindari konflik. Namun, karena mereka menyimpan dendam kepada Glanton, maka mereka pun memilih untuk menghabisi Glanton.

Kaum kulit putih yang turut menguliti kepala musuhnya

www.anehdidunia.com

Ketika kaum kulit putih pertama kali mendarat di Benua Amerika, mereka awalnya disambut hangat oleh suku Indian. Beberapa bahkan menjalin ikatan persahabatan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai konflik mulai bermunculan.

Ketika konflik semakin memanas, kaum kulit putih kemudian mengikuti kebiasaan suku Indian untuk menguliti kepala musuhnya. Adalah Perang Pequet yang menjadi arena kaum kulit putih menguliti kepala lawan untuk yang pertama kalinya.

Perang ini sendiri bermula ketika seorang pedagang yang bernama John Oldham dari kaum kulit putih dibunuh oleh suku Indian setempat. Merasa tidak terima, kamu kulit putih lantas melakukan perlawanan dan menyatakan perang dengan suku Indian.

Pada awalnya gubernur daerah dari kaum kulit putih menjanjikan hadiah kepada siapa saja yang berhasil membawa pulang kepala orang Indian. Akan tetapi, karena membawa kepala orang dalam jumlah banyak dinilai terlalu sulit, maka sayembara pun direvisi dengan mengganti frasa kepala orang Indian menjadi kulit kepala orang Indian.

Sejak saat itulah kaum kulit putih bersemangat untuk menghabisi orang Indian. Bahkan koloni dari kaum kulit putih yang lain turut menggelar sayembara serupa. Misalnya seperti yang terjadi pada tahun 1641 kalau gubernur koloni New Netherlands menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil membawa pulang kepala orang Indian dari marga Rarita.

Pembantaian Crow Creek

www.anehdidunia.com

Salah satu peristiwa pembantaian massal suku Indian yang paling parah terjadi pada tahun 1325 di Crow Creek. Bisa dibilang Crow Creek merupakan salah satu kota terbesar bagi suku Indian karena di tempat itu terdapat kurang lebih 55 tenda keluarga suku Indian.

Untuk melindungi kota Crow Creek dari ancaman serangan luar, suku Indian setempat memasang tembok kayu yang dilapisi kulit bison. Namun nyatanya tembok kayu tersebut tidaklah cukup kuat untuk dapat membendung serangan musuh.

Alhasil, pada suatu malam, gerombolan Indian dari marga lawan berhasil menyelinap masuk ke dalam kota dan membantai seluruh penghuninya. Pembantaian ini sendiri berhasil diketahui setelah tim arkeolog menemukan timbunan tulang belulang yang berasal dari 468 mayat berbeda.

Dengan melihat jejak yang ada pada tengkorak, tim arkeolog berkesimpulan kalau hampir semua orang di tempat ini diambil kulit kepalanya usai dibunuh. Meski demikian, tidak ada tengkorak dari kaum wanita yang masih belia karena diduga mereka dijadikan sebagai budak oleh suku Indian yang membinasakan Crow Creek.

Pembantaian ini sendiri terjadi satu abad sebelum Cristopher Colombus berlayar ke Benua Amerika. Tidak ada yang tahu pasti suku Indian mana yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.

Hingga akhirnya orang Eropa yang baru tiba di Amerika mendengar cerita dari suku Indian Arikara kalau leluhur suku tersebut pernah membinasakan sebuah desa yang sangat besar untuk memberikan pelajaran bagi para penghuni desa tersebut. Jadi, apakah suku Indian Arikara yang menjadi aktor dan dalang di balik pembantaian yang terjadi di Crow Creek?

Itu dia beberapa fakta sejarah tentang praktik menguliti suku Indian. Semoga dapat menambah pengetahuanmu, ya!

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot