UC News

Paling Populer, Tokoh Mahabharata Ini Justru Berakhir Tragis

Paling Populer, Tokoh Mahabharata Ini Justru Berakhir Tragis
Sumber: Fimela.com

Radiantha- Krishna Basudewa, yang dikenal sebagai Sri Krishna, adalah tokoh yang sangat populer dalam Mahabharata. Titisan Dewa Wisnu tersebut merupakan sosok yang sangat dipuja oleh umat Hindu. Bahkan, salah satu sekte bernama Hare Krishna memuja Sri Krishna sebagai wujud Tuhan tertinggi.

Putra raja Basudewa ini sangat dikenal karena keterlibatannya dalam perang Bharatayudha. Berkat campur tangannya, para Pandawa mampu memenangkan perang atas Kurawa tersebut.

Namun, dibalik keagungan namanya, terdapat kejadian tragis yang menyebabkan wafatnya Sri Krishna. Ya, sang penegak kebenaran ini meninggal dunia setelah seorang pemburu rusa menembaknya dengan anak panah.

Dikutip dari phdisumsel.or.id (12/10/2015), tragedi tersebut terekam jelas dalam epi Mahabharata. Kepergiannya pun mengawali sebuah jaman bernama Kaliyuga atau "jaman kegelapan", yang berlangsung hingga saat ini.

Bagaimanakah peristiwa nahas itu bisa terjadi? Berikut adalah fakta-faktanya

Kutukan Dewi Gandari

Perang Bharatayudha tidak hanya membawa kesedihan bagi keluarga para prajurit yang gugur dalam pertempuran. Dewi Gandari , ibu para Kurawa, turut merasa terpukul karena seluruh anak-anaknya tewas di medan perang.

Dewi Gandari (Sumber: pixshark.com)

Kesedihan itu pun berubah menjadi kekecewaan dan amarah saat ia mengetahui bahwa kemenangan Pandawa terjadi berkat bantuan Sri Krishna. Dengan penuh dendam, ia pun mengutuk sang raja Dwaraka itu.

" Wahai paduka Sri Krishna. Seperti halnya keluargaku mengalami kehancuran di depan mataku sendiri, demikian hendaknya anggota keluarga paduka mengalami kehancuran di depan mata paduka sendiri"

Kutukan tersebut sontak mengejutkan semua yang hadir disana, termasuk para Pandawa sendiri. Namun, tidak demikian halnya dengan Sri Krishna. Beliau tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan rasa cemas.

Dengan bijak, beliau berkata " Semoga demikian"

" Sebelum kau mengatakannya, aku sudah tahu apa yang akan terjadi padaku dan bangsaku, tiga puluh enam tahun dari sekarang", kata Sri Krishna.

" Aku tahu dengan cara apa aku akan meninggalkan dunia ini"

Sri Krishna, disaksikan oleh para Dewata, menerima kutukan Dewi Gandari tersebut.

Samba dan Tiga Orang Suci

Dari pernikahannya dengan Jambawati, Sri Krishna memiliki seorang putra bernama Samba.

Menurut Mahabharata, ia digambarkan sebagai sosok yang tampan dan gagah. Namun, ia memiliki watak suka bercanda dan berbuat kejahilan. Bersama teman-temannya, Samba senang membuat lelucon-lelucon, yang terkadang terlewat batas.

Pada suatu hari, tiga orang suci datang berkunjung ke Kerajaan Dwaraka yang dipimpin oleh Sri Krishna dan Dinasti Yadawa. Ketiga orang suci itu adalah Resi Narada, Resi Kanwa, dan Resi Wiswamitra.

Melihat kedatangan mereka, para pemuda itu langsung merencanakan sebuah prank untuk mengerjai sang pendeta. Mereka pun merias Samba hingga menyerupai wanita hamil, dan membawanya ke hadapan orang suci itu.

Di hadapan mereka, Samba mengaku sebagai istri sang Babru yang sedang hamil tua. Ia pun bertanya kepada mereka apakah bayi yang akan dilahirkan adalah laki-laki atau perempuan.

Melalui kesaktiannya, ketiga orang suci itu mengetahui akal-akalan yang dilakukan oleh Samba. Mereka pun berkata bahwa Samba akan melahirkan sebuah gada dari dalam perutnya.

Benar saja. Beberapa hari kemudian, keluarlah sebuah gada besi dari perut Samba. Dihantui rasa takut, ia segera menceritakan hal tersebut kepada ayahnya.

Terkejut dengan perbuatan putranya, Sri Krishna segera memerintahkan Samba untuk pergi menuju lapangan luas , lalu menghancurkan gada tersebut hingga menjadi debu.

Namun, gada tersebut hancur dengan tidak sempurna. Masih ada potongan besi yang tertinggal dari gada itu. Kelak, potongan itu akan dipungut dan diasah menjadi anak panah oleh seorang pemburu.

Disisi lain, debu-debu sisa gada itu meresap ke dalam tanah , menyebabkan tumbuhnya hamparan rumput liar di seluruh lapangan.

Tenggelamnya Kerajaan Dwaraka

Kerajaan Dwaraka merupakan negara yang dipimpin oleh Sri Krishna beserta dinasti Yadawa. Kerajaan ini terletak di kawasan pantai barat India, tepatnya di wilayah Gujarat.

Pada suatu hari, Dewa Indra datang ke Dwaraka untuk menemui Sri Krishna. Dalam pertemuan itu, Dewa Indra mengabarkan bahwa Kerajaan Dwaraka akan tenggelam akibat bencana dalam waktu dekat.

Sri Krishna, yang sebenarnya sudah mengetahui hal itu, segera mengumpulkan seluruh rakyat dan mengungsikannya keluar kerajaan.

Dalam waktu singkat, terjadi gelombang pengungsi yang besar di daratan India saat itu. Banyak dari mereka menyelamatkan diri menuju kerajaan lain seperti Magadha, Mandaraka, Cedi, hingga Hastina.

Tak lama kemudian, sebuah gelombang menyapu bersih seluruh pulau Dwaraka dan menenggelamkannya di dasar laut.

Saat ini, reruntuhan kerajaan Dwaraka di dasar laut menjadi tempat suci sekaligus obyek pariwisata populer di India. Banyak peziarah yang datang kesana untuk memanjatkan doa serta mengenang titisan dewa Wisnu tersebut.

Dinasti Yadawa Saling Membantai Satu Sama Lain

Pasca tenggelamnya Dwaraka, Sri Krishna beserta anggota dinasti Yadawa lainnya melakukan perpindahan massal ke Mandaraka, kerajaan yang dipimpin oleh Raja Baladewa, kakak Sri Krishna.

Karena hari sudah mulai gelap, rombongan Sri Krishna memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah lapangan. Saat itu, tidak ada yang menyadari bahwa lapangan itu adalah tempat pangeran Samba menghancurkan gada yang terkutuk.

Sambil beristirahat, mereka semua menggelar semacam pesta untuk melepas penat. Ada yang bernyanyi, menari, bahkan mabuk-mabukan.

Segala aktivitas itu tentu dilakukan ketika Sri Krishna tidak ada. Saat itu, beliau sedang pergi sebuah ladang di dekat sana untuk bermeditasi.

Seorang prajurit sedang bercanda dengan rekannya sambil mabuk. Tanpa sengaja, ia memetik sebuah rumput liar dan melemparkannya ke temannya. Namun, tiba-tiba rumput itu berubah menjadi sebuah gada besi. Tak ayal, sang teman pun tewas seketika.

Dalam sekejap, semua prajurit yang ada disana memegang rumput liar yang berubah menjadi gada. Anehnya, mereka terlihat setengah sadar dan seperti sedang kerasukan. Mereka bertarung satu sama lain dan korban tewas pun berjatuhan.

Hanya dalam hitungan jam, seluruh anggota dinasti Yadawa tewas akibat pertarungan mengerikan itu. Peristiwa ini merupakan hasil dari kutukan Dewi Gandari kepada Sri Krishna, yang kehilangan seluruh keluarganya dalam perang Bharatayudha

Ditembak oleh Seorang Pemburu

Menjelang pagi hari, Sri Krishna kembali dari meditasinya. Alangkah terkejutnya beliau saat melihat seluruh anggota keluarganya telah tewas. Namun, ia menerima semuanya dengan tabah dan menganggapnya sebagai takdir Yang Mahakuasa.

Dengan adanya peristiwa ini, beliau juga tahu bahwa ajalnya sudah sangat dekat. Untuk mempersiapkan diri, ia memilih untuk kembali bermeditasi.

Tidak jauh dari sana, seorang pemburu bernama Jara sedang membidik seekor rusa. Rusa itu sangatlah lincah, sehingga Jara cukup kesulitan untuk menembak panahnya.

Tiba-tiba, rusa itu berhenti untuk memakan rumput.

"Ini kesempatan emas", pikir Jara dengan riang

Dengan sekali tembak, panah sang pemburu itu melesat ke arah si rusa. Namun, dengan cerdik rusa itu menghindar. Alhasil, tembakan itu pun meleset ke arah rumput-rumput.

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang mengaduh dari balik rerumputan. Jara, yang merasa cemas, segera menghampiri sumber suara.

Kecemasannya pun berubah menjadi ketakutan, apalagi setelah mengetahui bahwa sosok yang ia tembak adalah kaki paduka Sri Krishna.

Dengan menangis tersedu-sedu, ia meminta maaf dan menunjukkan rasa penyesalannya.

Namun, Sri Krishna memaafkan perbuatan Jara. Dengan cinta kasihnya yang tulus, ia menyuruh Jara untuk segera pergi sebelum prajurit yang lain datang.

Dengan kaki yang terluka akibat tembakan panah, Sri Krishna bermeditasi untuk memisahkan jiwa dari tubuhnya. Tidak lama kemudian, titisan dewa Wisnu itu pun kembali ke surga.

Kepergian Sri Krishna pun menjadi awal dimulainya zaman kegelapan atau Kaliyuga, ditandai oleh maraknya kejahatan dan perbuatan tidak bermoral, yang berlangsung hingga saat ini.

Sumber: phdisumsel.or.id





Topic: #mahabharata
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot