UC News

Pantas menjadi penguasa, ternyata ini teknologi senjata pasukan Gajah Mada

Majapahit selama ini diidentikan oleh media masa dan masyarakat umum dengan pasukan setengah telanjang yang menyerang dengan kapal kecil sekelas sekoci. Pandangan ini sangat menghina dan berkebalikan dengan fakta sejarah baik melalui prasasti, inskripsi maupun catatan utusan negara asing tentang Majapahit yang menyatakan bahwa negara Jawa abad 14-15 M adalah penghasil kapal perang terbesar dunia, meriam dan matchlock (senjata api kuno) terbaik dan tentaranya memakai baju zirah. Dikutip dari http://www.bombastis.com (14/12/2019)

Banyak yang tidak mengetahui bahwa meriam asli buatan Majapahit dengan lambang surya Majapahitnya saat ini tersimpan di Metropolitan Museum of Art New York Amerika. Meriam yang oleh Majapahit dinamakan “CETBANG” ini terbilang paling canggih di zamannya dan bahkan nyaris sama dengan meriam Spanyol satu abad setelah majapahit. Dalam catatan penjelajah eropa, Jawa juga dikenal sebagai penghasil Matchlok (senjata api kuno/meriam mini) terbaik di zamannya. Industri pembuatan meriam tercantum dalam prasasti sekar dimana daerah Rajakwesi Bojonegoro menjadi salah satu sentra pembuatan meriam cetbang. Menariknya, seorang pemuda Australia pada tahun 2010 menemukan sebuah meriam di pantai utara Australia persis seperti Meriam majapahit yang ada di New York. Hal ini mengindikasikan bahwa Majapahit telah sampai di benua asutralia dan hampir bisa dipastikan pernah mengkolonisasi Australia.

Pantas menjadi penguasa, ternyata ini teknologi senjata pasukan Gajah Mada
Sumber Gambar http://www.bombastis.com

Dalam hal armada laut, Majapahit menjadi super power di lautan dengan kapal perang raksasa yang disebut jung (Jong). Salah satu catatan menarik dari Portugis di awal 1500-an masehi atau sekitar 30-40 tahun setelah Majapahit runtuh bahwa Jawa masih mewarisi teknologi kapal perang raksasa ini. Disebutkan bahwa, Jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa. Bahkan “Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa." tulis pelaut Portugis Tome Pires dalam Summa Oriental.

Dalam catatan lain dari Odorico Pordenone, biarawan katolik Roma yang berkunjung ke jawa pada tahun 1312 M, disebutkan bahwa kaisar-kaisar dari Mongol Dinasti Yuan telah berkali-kali berperang dengan kerajaan Jawa, tetapi selalu bisa dikalahkan. Hal ini mengindikasikan betapa kuatnya armada laut Majapahit saat itu mengingat perbandingan jumlah penduduk Jawa Timur (wilayah inti majapahit) dengan Mongol yang berjumlah ratusan juta jiwa saat itu dan berkuasa dari eropa timur , Persia hingga China.

Dalam hal armor prajurit, pasukan Majapahit maupun kerajaan-kerajaan pendahulunya di tanah Jawa tidaklah setengah telanjang melainkan memakai baju zirah saat berperang. Dalam bebagai catatan kuno, disebutkan bahwa tentara Jawa memakai baju perang yang bervariasi mulai dari jenis winaju rante/chain mail/ rantai besi yang dikaitkan membentuk baju hingga yang terbuat dari metal baja yang menutup seluruh bagian tubuh seperti ksatria Eropa abad 16. Dalam kidung Sundayana, terdapat percakapan antara patih Sunda dengan patih Majapahit Gajah Mada, Gajah Mada disebut mengenakan ‘akarambalangan asusungkul ĕmas’ atau lapis logam di depan dada (berhias timbul) dari emas, bersenjata tombak berlapis emas, dan perisai penuh dengan hiasan dari intan berlian dan berpedang. Sampai abad 16, kaum ksatria Jawa masih menggunakan baju zirah dari baja (Kere Waja). Namun pada era Panembahan Senopati pendiri Mataram, penggunaan kere waja mulai hilang dan diduga sengaja dilarang agar tidak ada yang bisa memberontak terhadap Mataram yang saat itu menganut paham mistik dan lebih mengedepankan ilmu kesaktian daripada teknologi.

Sumber:

http://www.bombastis.com

-KakawinNegarakertagama

-Tome Pires, Suma Oriental

-Odorico da Pordenone, The travel of friar Odoric ,

-Kidung Sundayana

-Metropolitan Museum of Art archive

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot