UC News

Pelajaran Berharga dari Tanah Sala di Museum Radya Pustaka

Pelajaran Berharga dari Tanah Sala di Museum Radya Pustaka

Mengunjungi Museum Radya Pustaka, Solo, sebenarnya sudah menjadi keinginan saya sejak dulu. Terlebih, saat saya membaca berita hilangnya beberapa benda peninggalan museum ini beberapa tahun lalu. Berita tersebut membuat saya percaya bahwa koleksi di museum ini memanglah amat berharga, sehingga dicari oleh banyak orang.

Maka dari itu, pada suatu pagi saat pertama kali datang ke kota ini, saya langsung menuju Taman Sriwedari. Tak jauh dari taman ini, Museum Radya Pustaka berdiri. Ternyata, di sana sedang dilakukan perbaikan dan pengecatan museum. Tampak beberapa pekerja sedang asyik mengecat ikon museum berupa tulisan dan patung pujangga Ranggawarsita di halaman depan.

Tak perlu membayar tiket masuk untuk memasuki museum ini. Hanya perlu mengisi buku tamu dan petugas museum akan mengarahkan pengunjung menuju pintu masuk dan memberi tahu peraturan museum dengan singkat. Saya pun melangkahkan kaki ke beranda depan museum dan disambut oleh sebuah patung R.A. Sosrodiningrat IV yang merupakan pendiri museum ini.

Ruangan tengah museum Radya Pustaka.

Pada ruangan ini terdapat beberapa koleksi benda pusaka Kasunanan Surakarta, seperti senjata perang, topi pasukan, berbagai cawan, hingga berbagai macam kerajinan perak dalam bentuk patung kecil. Berbagai koleksi ini tertata rapi dan disertai dengan informasi mengenai proses pembuatan dan makna di dalamnya.

Sebelum beranjak ke bagian dalam, saya melewati ruangan khusus untuk mengimpan naskah-naskah kuno beraksara Jawa. Oh iya, Kota Solo ini merupakan pusat kebudayaan Jawa. Jadi, berbagai naskah tersebut disimpan di museum ini. Beberapa di antaranya adalah serat dan kitab-kitab yang ditulis oleh pujangga besar pada zaman dahulu. Saat ini, sedang dilakukan proses digitalisasi naskah tersebut, agar jika naskah tersebut rusak dimakan usia, masih bisa dibaca dan dipahami oleh generasi mendatang. Mengingat pentingnya kegiatan ini, maka ruangan tersebut tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Jika berminat masuk, harus melalui surat yang ditujukan kepada pengelola museum.

Informasi mengenai horoskop Jawa.

Sesampainya pada bagian tengah, ada potret penguasa Kasunanan Surakarta dari dulu hingga sekarang. Alat musik gamelan yang menjadi salah satu nyawa kebudayaan Jawa juga ada di sini. Namun, yang menarik perhatian saya adalah adanya Patung Kyai Rajamala. Patung berkepala raksasa ini merupakan bagian dari sebuah perahu yang konon duku digunakan Raja Kasunanan untuk mengambil permasuri di Madura. Jadi, kapal tersebut akan melewati Sungai Bengawan Solo sebelum sampai di Madura.

Tak ketinggalan, ada juga mesin ketik untuk mengetik surat beraksara Jawa. Sungguh, benda antik ini sangat langka ditemui saat ini. Pada bagian lebih dalam, ada berbagai koleksi mata uang kuno dari zaman kerajaan hingga masa kemerdekaan. Namun, yang menjadi daya tarik saya adalah informasi mengenai horoskop dalam kebudayaan Jawa. Banyak orang menyebutnya sebagai primbon.

Arca dan prasasti di bagian belakang Museum Radya Pustaka.

Di museum ini, primbon jawa diuraikan secara lengkap. Mulai dari weton dan pasaran, hingga segala informasi mengenai sifat dari wuku tertentu. Dengan adanya koleksi semacam ini semakin meneguhkan bahwa Museum Radya Pustaka adalah museum yang sangat lengkap menyimpan khazanah kebudayaan Jawa dan cerita dari Tanah Sala.

Perjalanan saya menjelajahi museum ini berakhir di bagian belakang. Tempat penyimpanan berbagai prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dan arca-arca. Sayangnya, di bagian belakang ini tidak diberikan informasi mengenai arca dan prasasti apa saja yang ada di sana. Berbagai benda bersejarah itupun hanya ditempatkan begitu saja.

Meski demikian, saya cukup puas dengan apa yang saya dapat di Museum Radya Pustaka ini. Agar ada banyak informasi yang bisa dipelajari, tak ada salahnya menyempatkan mampir ke Museum Radya Pustaka saat mengunjungi Kota Solo.

Topic: #jawa #solo
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot