UC News

Pungli Korban Tsunami, Manajemen Seventeen Bayar Belasan Juta

Pungli Korban Tsunami, Manajemen Seventeen Bayar Belasan Juta
Herman Andrew Bong tersenyum usai bersalaman dengan JPU Kejati Banten di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa (6/8). Foto Merwanda/Radar Banten

SERANG – Band Seventeen mengeluarkan dana senilai Rp19,3 juta untuk mengurus lima jenazah korban tsunami Selat Sunda di RS dr Drdajat Prawiranegara (RSDP) Serang. Dana itu dibayar tunai oleh manajemen dan keluarga dari personel dan kru band Seventeen.

“Saat itu saya tanya apakah bisa transfer? Karena cash kami enggak cukup. Bapak Fatullah (terdakwa-red) untuk cash saja,” kata Herman Andrew Bong, manajemen band Seventeen di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa (6/8).

Herman dihadirkan sebagai saksi untuk ketiga terdakwa pungutan liar (pungli) pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda di RSDP Serang. Yakni, pegawai RSDP Serang Tb Fatullah, pegawai CV Nauval Zaidan (NZ) Budiyanto, dan Indra Juniar Maulana.

Herman mengaku mengurus lima jenazah kru dan personel band Seventeen yang menjadi korban tsunami pada 22 Desember 2018 lalu. Yakni, Herman Sikumbang alias Herman (gitaris Seventeen), Muhammad Awal Purbani alias Bani (basis Seventeen), dan Windu Andi Darmawan alias Andi (drumer Seventeen), serta Oki Wijaya (manajer). Selain itu, istri Riefian Fajarsyah alias Ifan (vokalis Seventeen), Dylan Sahara.

Pada 23 Desember 2018, jenazah Bani, Herman, dan Oki tiba di RSDP Serang. Keesokan harinya, jenazah Dylan dan Andi juga sampai ke RSDP Serang. Saat itu, Herman bertemu Fatullah dan memintanya mengurus lima jenazah untuk dibawa pulang. Fatullah kemudian menjelaskan prosedur dan biaya pengurusan jenazah.

“Setelah itu, diberi tahu prosedurnya diarahkan ke satu ruangan untuk biaya-biayanya, saya ketemu (terdakwa-red) Fatullah. Saya bertanya ke beliau, dijelaskan prosedur dan dijelaskan biaya-biayanya,” kata Herman di hadapan majelis hakim yang diketuai M Ramdes.

Herman mengatakan, untuk pemulasaran, formalin jenazah Bani, Herman, dan Oki dipungut biaya total sebesar Rp6,8 juta. Sedangkan, untuk jenazah Dylan Sahara dan Andi dipungut sebesar Rp10,5 juta. “Kalau Dylan Rp7,3 juta, biaya formalin dan peti jenazah. Untuk Andi Rp3,2 juta, tidak beserta peti jenazah. Dari awal sudah dibilang harus ada ekstra formalin (tarif lebih mahal Rp1 juta-red),” ucap Herman.

Dia mengaku tidak mengetahui bila pengurusan jenazah korban akibat bencana tsunami tidak dipungut biaya alias gratis. “Tidak tahu gratis. Manajemen cuma minta diurus saja,” kata Herman.

Usai keterangan saksi, Fatullah menyatakan tidak keberatan. Dia hanya menegaskan setiap pembayaran pengurusan jenazah selalu disertakan kuitansi. “Saya selalu kasih kuitansi,” ucapnya. (nda/ags)


Topic: #seventeen
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot