UC News

Review : Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (SIMA 2) , menebar kengerian dan sangat cocok ditonton di bioskop dengan audio yang menggelegar

Review : Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (SIMA 2) , menebar kengerian dan sangat cocok ditonton di bioskop dengan audio yang menggelegar

Sekuel Film Sebelum Iblis Menjemput (2018) yang dirilis 27 Februari 2020 di bioskop ini boleh dibilang sebagai salah satu film horror Indonesia yang paling diantisipasi kehadirannya. Pencapaian kualitas film pertama yang dirilis pada 9 Agustus 2018 lalu ini terbilang sangat memuaskan sebagai film horror. Timo Tjahjanto sukses menyajikan pengalaman horror tak terlupakan dengan cerita serta ensemble casts yang memukau.

Debut perdana bagi dua aktris berbakat Indonesia yaitu Chelsea Islan dan Pevita Pearce dalam beradu akting di film horror ini bahkan mendapat apresiasi masuk Nominasi Pemeran Utama Wanita Terpuji Festival Film Bandung 2018 lalu.

Pada saat Press Conference, Gala Premiere film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020) pada Jum’at, 21 Februari 2020 di Cinema XXI Senayan City Jakarta . Sutradara sekaligus produser SIMA 2 , Timo Tjahjantomengungkapkan proses dan ide cerita film ini memberikan sesuatu hal yang baru serta evolusi dari karakter Alfie.

Timo menambahkan, proses pengambilan gambar film ini berjalan sangat lancar karena ensemble casts yang ia pilih selalu ikut mengembangkan masing-masing karakter yang mereka perankan. Aktris Chelsea Islan pun mengungkapkan, evolusi karakter Alfie yang ia perankan kini jauh lebih depresif, makin emosional dan tempramental. Bahkan yang cukup membuatnya sedikit malu adalah sikap dan sifat Alfie yang ia perankan selama lebih dari satu bulan selama pengambilan gambar, sampai terbawa ke kehidupan asli dari Chelsea Islan itu sendiri. Aktor Baskara Mahendra dan Hadijah Shahab pun merasakan hal itu. Mereka nyaris tidak bisa membedakan mana Chelsea Islan, mana karakter Alfie.

Baskara Mahendra juga mengungkapkan, ia ketagihan ingin kembali bermain dalam film bergenre horror. Ia menambahkan, proses pengambilan gambar film 2 ini terasa sangat menyenangkan sekaligus mendapatkan banyak sekali ilmu dari sang sutradara soal hal-hal horror, thriller, gore hingga teknik adegan aksi yang menggunakan banyak perlengkapan keamanan.

Untuk segi cerita, film ini secara tak langsung memang tidak ada kaitannya dengan film pertama. Benang merah yang menghubungkan kedua film ini berasal dari karakter dukun wanita itu saja. Jika karakter Alfie dan Nara dihilangkan pun, kisah film ini masih bisa tetap berlanjut. Tapi, ditangan Timo Tjahjanto, skenario kedua kisah ini tetap dipersatukan lewat karakter Alfie dengan cara yang menurut kami terlalu dipaksakan. Ada satu adegan dari salah satu anak panti ini yang mempersilahkan Alfie dan Nara untuk pulang setelah usaha yang Alfie lakukan gagal. Alfie dan Nara terlihat dijebak oleh geng anak panti asuhan ini. Hal tersebut sedikit membuktikan jika Alfie maupun Nara dihilangkan pun tidak terlalu menjadi masalah. Seiring berjalannya durasi, muncul hal-hal lainnya yang menimbulkan banyak tanda tanya. Beberapa penjelasan soal kitab hitam, Dukun Wanita hingga Iblis Molok itu sendiri tidak dieksplor lebih mendalam.

Ensemble casts film ini lebih melimpah dibandingkan film pertama. Penggalian personal tujuh karakter anak panti ini masih kurang meyakinkan. Motif serta chemistry masing-masing dari mereka tidak terlalu menonjol, malah cenderung acuh. Padahal mereka semua diceritakan sebagai sahabat dekat dan sudah menganggap seperti saudara sendiri.
Terlepas dari cerita filmnya yang menurut masih bisa lebih baik dan lebih dapat dipercaya lagi, Timo Tjahjanto menghadirkan sensasi horror, thriller, slasher hingga gore nya meningkat dua kali lipat dibandingkan film pertama. Timo menepati janjinya jika disekuelnya nanti, kadar kengerian dan slashernya tidak akan ditahan-tahan lagi. Sejak menit pertama, penonton sudah diberi jumpscared cerdik dengan timing penampakan yang sangat bagus. Permainan lensa bokeh dan blur untuk menciptakan adegan seram sukses membuat penonton gelisah. Tingkat brutal pun harus diakui semakin menggila di film AYAT 2. Melimpahnya para karakter disini dimanfaatkan dengan baik oleh Timo untuk menghadirkan elemen horror dan slasher. Satu persatu dari mereka mendapatkan pengalaman horror yang gila dan pol-polan. Bahkan ada satu kejutan setan khas Indonesia muncul dan memeriahkan film ini.

Untuk jajaran pemain, karakter Alfie yang dimainkan Chelsea Islan benar-benar berevolusi dari film pertama. Alfie kini digambarkan makin mudah tersulut emosi, pemarah dan juga tempramental. Nyaris disepanjang durasi 110 menit ini, karakter Alfie selalu emosi dan marah dalam kondisi apapun. Terasa letih melihat Chelsea Islan yang terus-terusan marah disaat panik, terancam bahaya maupun sedang berdialog biasa. Tak hanya itu saja, karakter Alfie dan yang lainnya ditampilkan kurang realistis karena disepanjang film, mereka semua sama sekali tidak melakukan aktifitas manusiawi seperti makan maupun istirahat sejenak. Timo secara jor-joran memberikan intensitas horror dan slasher yang tinggi disepanjang film.

Moment brutal dan kesadisan yang dialami oleh aktor Baskara Mahendra, Widika Sidmore, Lutesha, Shareefa Daanish, Karina Salim Arya Vasco dan Aurelie Moeremans tampil mengerikan dan gila-gilaan. Visual efek, tata make-up hingga aksi liar dan akrobatik mereka dan juga para stunt disaat kerasukan mereka begitu bagus dan sangat atraktif.

Kontributor : Rizkywinaya

Editor : Nuty Laraswaty

Artikel asli

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot