UC News

Satu Bulan Pedagang Ketoprak Itu Mangkal Di Depan Rumahku. Ternyata Ini Yang Dilakukannya!

Hari itu hari Minggu, tidak biasanya, seorang pedagang ketoprak mangkal di depan rumahku. Mulai jam 10.00 pagi, gerobaknya terparkir di tempat yang agak teduh. Sesekali 'abang toprak' memukul piring dengan sendok, seolah sedang mengundang calon pembeli untuk menikmati ketoprak olahannya. Saat saya keluar rumah, dengan sopan pedagang itu meminta izin mangkal di tempat itu. Dia memerkenalkan diri sebagai pak Somad.

Satu Bulan Pedagang Ketoprak Itu Mangkal Di Depan Rumahku. Ternyata Ini Yang Dilakukannya!
Referensi pihak ketiga

Saya tidak tahu, berapa piring ketoprak yang terjual hari itu. Yang pasti, sejak hari itu, di abang pedagang ketoprak selalu mangkal di tempat yang sama. Waktunya pun nyaris sama, mulai jam 10.00 sampai jam 16.00. Saya beberapa kali sempat juga menikmati ketoprak olahannya. Rasanya khas, walaupun tidak terlalu enak. Cukuplah sebagai penghilang rasa lapar ketika istri tidak masak.

Semakin hari, pelanggan pak Somad semakin banyak. Sesekali saat saya bertanya kepadanya soal hasil dagangnya, dia hanya tersenyum. 'Lumayan pak,' jawabnya dari balik topi yang selalu dikenakannya. Alhamdulillah, pikirku. 'Lahan teduh di depan rumahku bisa menjadi sumber rejeki bagi orang lain,' ucapku dalam hati. Kami warga satu gang merasakan manfaat kehadirannya. Mulai dari tersedianya menu ketoprak hingga rasa aman karena keberadaannya.

Suatu siang, saat aku berada di kantor, aku mendengar kabar tak enak dari asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di rumahku. Salah satu rumah tetanggaku, tepatnya yang tinggal dua rumah di sebelah kiri rumah kami, digerebek aparat berpakaian seragam polisi. Saat itu juga aku minta izin pada atasanku untuk pulang ke rumah, karena ART ku mengabarkan sempat ada tembak-menembak.

Sesampainya di rumah, pak Somad menyambutku. Hari itu dia tidak lagi membawa gerobak ketopraknya. Topi yang selalu dipakainya, hari ini dilepas. Rambut cepaknya terlihat jelas. Yang mengejutkanku, dia justru memerkenalkan diri sebagai petugas intel kepolisian, yang selama satu bulan ditugaskan untuk mengintai aktivitas terduga teroris yang tinggal di komplek perumahan kami. Usut punya usut, ternyata mereka mengontrak di rumah tetangga kami.

Dan hari itu dia menyelesaikan tugasnya. Walaupun sempat terjadi kontak tembak, tidak ada anggota kepolisian yang jadi korban. Sebaliknya, lima orang terduga teroris berhasil ditangkap setelah dilumpuhkan dengan timah panas. Dua belas unit bom siap meledak sedang dirakit di rumah tersebut, untuk diledakkan. Lokasinya masih dalam penyelidikan aparat kepolisian, papar pak Somad, yang ternyata nama samaran. Nama aslinya Febrian.

Keesokan harinya, dan juga hari-hari selanjutnya, tidak ada lagi pedagang ketoprak yang mangkal di depan rumahku.


Sumber artikel :

Kisah ini bersumber dari imajinasi penulis semata

Topic:
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot