UC News

Tanpa Pegolf Dunia, Daya Tarik BNI Indonesia Masters Tak Berkurang

Tanpa Pegolf Dunia, Daya Tarik BNI Indonesia Masters Tak Berkurang

JAKARTA – BNI Indonesia Masters kembali bergulir di Royale Jakarta Golf Club, 12-15 Desember mendatang. Berbeda dengan edisi sebelumnya, turnamen yang masuk kalender Asian Tour tersebut tak akan dihadiri pegolf papan atas dunia. Founder Indonesia Masters, Jimmy Masrin, ingin lebih fokus pemain Asia.
Dalam dua tahun terakhir, turnamen yang memperebutkan total hadiah 750 ribu dolar AS (sekitar Rp10,5 miliar) ini diikuti beberapa pemain bintang seperti mantan nomor satu dunia (OWGR), Justin Rose. Ada pula nama Henrik Stenson yang notabene peraih The Open Championship 2016.
Sedangkan pada edisi kali ini, nama-nama tersebut tak lagi tampil. Namun, Jimmy menyebut hal tersebut tak akan mengurangi daya tarik turnamen. Indonesia Masters diprediksi sengit karena diikuti pegolf top Asia yang akan bersaing memperebutkan poin untuk peringkat dunia, akhir musim ini.





“Tahun ini sedikit berbeda, kami ingin fokus ke pemain-pemain Asia. Tahun lalu, tak banyak pegolf Asia Selatan yang masuk top 100 dunia tapi musim ini ada dari Jepang, Korea Selatan (Korsel), India, Thailand,” kata Jimmy kepada wartawan di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Selasa (22/10).
Jimmy menuturkan, daya tarik Indonesia Masters bukan hanya karena kehadiran satu atau dua pemain. Namun, lebih pada gengsi dari turnamen itu sendiri. Selama empat tahun belakangan, ajang ini mengalami peningkatan. Jadi Jimmy tak mengkhawatirkan absennya pemain dunia seperti Rose.
“Persaingan dalam Asian Tour makin ketat, pun di turnamen ini karena pemain akan memanfaatkan ajang ini untuk mengumpulkan poin. Selain itu, sejumlah pegolf masih bersaing memperebutkan Order of Merit. Mereka akan datang dan main sebaik mungkin agar jadi yang terbaik,” tutur Jimmy.
Selain tetap jadi bagian dari Panasonic Swing, pemenang Indonesia Masrters akan melaju ke World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational, tahun depan. Selain itu, dengan menjadi turnamen unggulan Asian Tour, pemenang sedikitnya akan mendapat tambahan 20 poin OWGR.
Angka itu akan menguntungkan karena bisa menentukan kualifikasi 60 pegolf untuk Olimpiade XXXII/2020 di Tokyo, Jepang. Selain itu, jadi kunci pemain untuk lolos ke turnamen mayor. Sejak debut, 2011, Indonesian Masters jadi bagian dari pengembangan golf di Tanah Air dan Asia Tenggara.
Terbukti, untuk kali pertama, Indonesia punya juara Asian Tour. Rory Hie memenangi Classic Golf and Country Club International Championship di India, 12-15 September. Sedangkan pada Indonesia Masters, 2018, pegolf Thailand, Poom Saksansin, menang dengan 268 pukulan atau 20 di bawah par.
Kemenangan itu menunjukkan bahwa Poom lebih baik dari jajaran Rose dan Stenson yang kala itu berstatus nomor satu dan pegolf berperingkat ke-27 dunia. Poom yang juga juara pada 2016, merupakan pemain kedua setelah Lee Westwood yang menjuarai Indonesian Masters lebih dari satu kali.





“Mewakili semua anggota, saya ingin menyambut kembalinya Indonesian Masters dalam Asian Tour. Turnamen ini berkembang jadi salah satu yang bergengsi di Asia Tenggara selama beberapa tahun. Saya percaya turnamen ini akan menyajikan pekan golf yang meriah,” kata Cho Minn Thant, Komisaris dan CEO Asian Tour.
Pada kesempatan sama, Anggoro Eko Cahyo selaku Direktur Bisnis Konsumer BNI, menyebut tahun ini sebagai yang keempat pihaknya ambil bagian dari turnamen. “Ini merupakan ajang yang baik untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara potensial untuk berinvestasi,” katanya.*MUHAMMAD RAMDAN

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot