UC News

The Real Ujian Akhir

The Real Ujian Akhir
Referensi pihak ketiga
Referensi pihak ketiga

Gadis itu membuka jendela kamarnya dengan syahdu, menghirup udara segar yang membuncah dari luar. Ia kembali menatap cermin bundar yang bertengger diterali jendela. Menatap bayangannya sendiri, lalu mengepalkan tangannya ke udara, dengan mantap yang agak dipaksakan, ia lalu bergumam pada dirinya, “Kamu bisa...!”

Kejadian di atas terjadi disuatu pagi di bulan Mei, tepatnya tanggal 17 di tahun 2007. Hari pertama ujian nasional. Yah, hari yang penuh emosi dan degup jantung berlebih. Belum lagi jika me-rewind hari-hari sebelumnya yang membuat tidur saya tak nyenyak, dan makan pun tak ennak (???).

Hari itu, saya melangkahkan kaki dengan berat. Oh, betapa beratnya menghadapi kenyataan, saya akan mengalami satu hari dari rangkaian UAN, penentu perjuangan selama tiga tahun dibangku SMA. Setelah pamitan pada mama-papa, saya pun berangkat..... Bismillah....

Setibanya di sekolah, saya langsung merasakan atmosfer ketegangan, wajah-wajah pucat dan degup jantung yang berkejaran dengan waktu. Yah, itulah UAN, hari yang penuh dengan ‘kengerian’.

Setelah tiga hari –mengerikan itu- berlalu, ‘penderitaan’ ternyata belum berakhir. Kami harus kembali deg-degan menunggu pengumuman hasil UAN yang cukup lama jaraknya, kurang lebih sebulan lamanya. Seiring dengan berlalunya UAN itu, banyak hikmah yang dapat jadi pelajaran. UAN membawa begitu banyak perubahan pada siapa pun. Termasuk, siswa paling cuek sekalipun. Seorang teman pernah bercerita tentang shalat pertamanya yang disertai air mata, sehari sebelum UAN. Juga tentang seorang kawan yang ditegur teman se-gank-nya saat ikutan shalat jamaah di mushalla, “Mentang-mentang mau UAN, tobatmi tawwa...”. Atau tentang saya yang membawa-bawa soal matematika, saat rekreasi keluarga ke pantai. Disaat semua keluarga asyik cebur-ceburan, malah saya bertengger di bawah pohon dengan soal matematika. Saking seriusnya, alis pun kadang berkerut! Sebuah kejadian yang jarang, lebih jarang dari jatuhnya komet Halley sekalipun!

Hingga suatu hari, saya tertegun, ketika salah saudari, menganalogikan UAN seumpama kejadian di alam kubur nanti. Ujian terakhir yang sebenarnya. Saat itu, kita tak bisa lagi berharap bisa ‘kerja sama’ dengan teman seruangan. Saat itu, kita tak mampu lagi berharap pada kunci-kunci jawaban yang beredar. Saat itu, kita tak berkutat dengan lembar jawaban komputer. Kita tak bisa mengelabui pengawas, sebab hanya ada kita, beserta amalan-amalan baik kita.

Saya sangat sibuk, dan bersemangat saat menjelang UAN, menyiapkan segalanya, mempelajari semuanya dan mengerjakan contoh soal sebanyak-banyaknya. Tapi apakah yang sudah saya siapkan untuk the real ujian akhir yang pasti datang pada saya? Sudah siapkah saya pada masa-masa penuh ketegangan tersebut?

Ujian akhir yang sebenarnya: waktu kita diharuskan mempertanggungjawabkan segalanya dimulai di alam kubur, dan berlanjut hingga padang mahsyar. Saat mulut terkunci, dan berkatalah segala panca indera yang selama ini hanya bisu dengan perintah kita. Oh, betapa jauh menegangkan hari itu!

Mungkin, ada kesalahan yang belum termaafkan. Ada maaf yang belum terucapkan. Ada dosa yang belum tertaubatkan. Ada hutang yang belum terbayarkan. Ada ilmu yang belum teramalkan. Ada pesan yang belum tersampaikan.

Saat tercabut ruh, yang bahkan baginda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun merasakan sakitnya. Saat tak ada waktu bahkan untuk satu rakaat pun shalat, dan jasad kita terbaring kaku di hadapan orang-orang yang mengumandangkan empat kali takbirnya dalam shalat jenazah, suatu hari, untuk kita.

Dan bertanyalah malaikat di alam kubur, dan diputarkanlah setiap detik yang kita habiskan di dunia saat berkumpul di padang mahsyar. Saat kita bahkan telah lupa, namun apakah yang bisa luput dari-Nya? Jika saat itu datang, jika waktu tak lagi ada. Sudah siapkah kiat? (Ar)


Sumber: alfirdaus ed 1 vo.1/2010 (hl. 20-12)


Topic:
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot