UC News

Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan
Eric Kng mengabadikan momen perjuangannya keluar dari Kota Wuhan, beberapa saat sebelum kota tersebut diisolasi oleh otoritas China. Foto: Eric Kng

Seorang warga negara Singapura, dilaporkan berhasil selamat dari ancaman isolasi yang hendak dilakukan oleh otoritas Cina di kota Wuhan. Kala itu, ia (yang sedang mengerjakan beberapa bisnis) awalnya sempat tidak tahu-menahu perihal isolasi yang akan dilakukan, hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai hal tersebut saat membuka ponselnya.

Kisah menariknya untuk keluar dari Wuhan pun kemudian dibeberkan oleh media setempat. Dikutip dari laman straitstimes.com, Jumat (24/1), pria bernama lengkap Eric Kng, awalnya hanya melakukan perjalanan untuk mengunjungi beberapa rekan dari Wuhan ke Shenzen. Tanpa ada niatan untuk pergi ke Shenzen agar tak terjebak di Wuhan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.

Saat dalam perjalanan ke stasiun kereta api untuk mengejar kereta pukul 3.30 pagi dari Wuhan, kemarin, Eric yang juga founder dan CEO sebuah perusahaan di Singapura dan Wuhan, mendapat pesan mengejutkan di ponselnya. Dalam pesan tersebut, dikabarkan bahwa kota itu akan di karantina, dan semua angkutan umum akan berhenti beroperasi pada pukul 10 pagi.

Beruntung, ia pun berhasil keluar dari Wuhan sebelum akses keluar masuk kota tersebut ditutup total. Dalam dokumentasi pribadinya, tampak, kereta ke Shenzhen, nyaris kosong melompong dan akan menjadi salah satu dari beberapa moda transportasi yang bisa keluar dari ancaman kota endemik coronavirus tersebut.

“Situasi awalnya relatif tenang. Lebih banyak orang memakai masker, tetapi masih melakukan kegiatan sehari-hari,” kata pria berusia 34 tahun tersebut, saat kembali mengulang ceritanya kepada wartawan.

Tetapi, lanjutnya, setelah penularan virus corona dari manusia ke manusia dikonfirmasi awal pekan ini, ia memutuskan untuk memborong bahan makanan yang sudah mulai melonjak hampir separuhnya. Termometer dan masker juga terjual habis di tiga apotek yang ia kunjungi.

Seperti mendapatkan bisikan magis, Eric Kng kemudian menyiapkan beberapa pakaian dan membeli tiket kereta ke Shenzhen untuk pagi berikutnya. Dia awalnya berencana untuk mengunjungi teman-teman di kota-kota Cina lainnya selama liburan, tetapi pada akhirnya gagal.

“Aku melihat berita dalam perjalananku ke stasiun kereta sekitar jam 2 pagi, dan bahkan sopir taksi bertanya apakah aku yakin bisa keluar dari Wuhan,” jelasnya.

Sebelum benar-benar keluar dari Wuhan, ia terlebih dahulu harus melewati tes kesehatan. Pada akhirnya ia dinyatakan lolos dan berhasil melenggang bebas dari Wuhan. Namun, walaupun bisa keluar dengan tepat waktu, ia tidak tahu kapan ia bisa kembali dan melanjutkan aktivitasnya seperti sedia kala.

“Tidak ada tiket yang tersedia untuk satu minggu ke depan. Kuharap segalanya segera berakhir. Yang kumiliki hanyalah ransel, dan aku masih punya urusan untuk dijalankan.”

Melihat beberapa fakta yang terjadi, ia pun coba berkomentar. Menurutnya, karantina akan lebih efektif jika diberlakukan sebelumnya. Sebab, banyak orang telah meninggalkan Wuhan menjelang Tahun Baru Imlek, baik baik ke kota asal di Cina maupun berlibur ke luar negeri.

Pemerintah Cina sendiri, beberapa waktu lalu, telah mengumumkan, sebelum Malam Tahun Baru Imlek, semua penerbangan keluar dan kereta api dari Wuhan akan ditangguhkan dalam upaya mencegah penyebaran virus yang telah mencapai setidaknya lima negara lain, termasuk Singapura.

Bus umum, layanan kereta bawah tanah, dan kapal feri di kota juga terhenti. Sementara mobil masih dapat meninggalkan kota, pihak berwenang telah memutuskan bahwa penduduk tidak boleh pergi tanpa alasan khusus.

READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot