UC News

Review Dreadout 2: Ngeri-Ngeri Sedap!

Review Dreadout 2: Ngeri-Ngeri Sedap!

Berangkat dari sebuah konsep potensial yang dieksekusi dengan cukup baik, Dreadout memang tumbuh menjadi salah satu game racikan developer Indonesia tersukses di pasaran. Seri pertamanya berhasil menarik perhatian tidak hanya gamer lokal saja, tetapi juga gamer mancanegara, termasuk Youtuber besar sekelas Pewdiepie. Popularitas ini tentu saja membuat Dreadout terus tumbuh, hingga bergerak ke ranah layar lebar dan game VR. Tidak mengherankan jika sang seri kedua – Dreadout 2 yang diperkenalkan beberapa tahun lalu langsung tumbuh menjadi salah satu game yang cukup diantisipasi. Apalagi Digital Happiness sepertinya hendak menyuntikkan sesuatu yang baru dan berbeda di dalamnya.

Anda yang sudah membaca artikel preview kami sebelumnya tentu sudah memiliki gambaran lebih jelas apa yang hendak ditawarkan Dreadout 2. Kami sendiri mengakui bahwa sensasi yang ia tawarkan memang cukup baru dan berbeda, terutama lewat penyematan sistem gameplay lebih action menggunakan senjata melee di dalamnya. Desain-desain baru ini membuatnya terasa seperti peleburan konsep game horror yang sempat ditawarkan oleh Outlast, The Evil Within, dan Silent Hill di dalam satu ruang yang sama, yang juga diikuti dengan cita rasa lokal yang menyeruak kuat dari beberapa sisi. Walaupun demikian, ia tetap bukanlah sebuah game yang sempurna terutama karena “sensasi” indie yang masih terlalu kuat.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dreadout 2? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang menawarkan sensasi ngeri-ngeri sedap? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Anda kembali memerankan Linda yang harus bertahan hidup setelah malapetaka di seri pertama yang menghabisi teman-temannya.

Mengikuti angka “2” yang kini tersemat di belakang namanya, Dreadout 2 memang diposisikan sebagai seri sekuel langsung dari Dreadout pertama. Berita baiknya? Anda yang tidak memainkan seri pertamanya bisa langsung meloncat masuk berkat fitur “Story Before” yang juga disertakan. Fitur ini akan memberikan gambaran cukup jelas soal konflik seperti apa yang terjadi di seri pertama dan siapa itu Linda.

Dreadout 2 mengambil timeline setelah kejadian di seri pertama. Linda yang masih anak SMA masih terus berhadapan dengan ragam kasus supranatural yang untungnya, tetap ia bisa tundukkan menggunakan jepretan kamera andalannya – Irisphone. Setelah kasus kematian yang menimpa teman-temannya dan rasa bersalah yang sulit untuk dihapuskan begitu saja, Linda kini harus berhadapan dengan mimpi buruk dan ancaman yang lebih besar. Bahwa tidak lagi melibatkan dirinya dan keluarganya yang memang dianggap memilih garis darah istimewa berkaitan dengan dunia tak kasat mata ini, ia harus berjuang melawan kekuatan baru yang berpotensi menghancurkan dunia.

Linda kini harus berhadapan dengan ancaman yang baru.
Kekuatan gelap yang tidak hanya mempengaruhi dunia manusia saja, tetapi juga sifat para hantu.

Ancaman ini muncul dalam sosok wanita misterius yang terus menghantuinya. Kehadiran wanita dengan kostum hitam ini tidak hanya mengancamnya secara fisik, tetapi juga memicu situasi paranormal yang kian absurd. Ia bisa membuat makhluk halus yang tadinya damai, kini “iseng” dan mengganggu manusia. Makhluk halus yang agresif ini juga mulai mempengaruhi dunia fisik dan menimbulkan kehancuran, meninggalkan pertanyaan besar soal wilayah sekitar tempat tinggal Linda. Proses investigasi yang dilakukan dari satu lokasi ke lokasi yang lain juga mengindikasikan keterlibatan Siska – sang guru wanita yang berujung membuka “topeng”-nya di seri Dreadout pertama.

Mampukah Linda mengatasi ancaman yang baru ini?

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada Linda? Musuh baru seperti apa yang harus ia hadapi? Mampukah ia menyelamatkan kota yang ia cintai dari ancaman yang satu ini? Anda tentu saja harus memainkan Dreadout 2 untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini.

Tags: , , , , , ,

Horror Urban

Kini menggunakan Unreal Engine 4, visualisasi Dreadout 2 memang terlihat lebih baik dibandingkan seri pertamanya.

Dreadout pertama memang game horror populer yang terhitung memesona untuk ukuran sebuah game indie, namun sulit untuk menyangkal, bahwa ia memang lemah dari sisi presentasi visual. Keputusan Digital Happiness untuk berganti ke Unreal Engine 4 membuat kualitas visualisasi Dreadout 2 naik kelas. Ia memang belum terlihat sesolid dan semanis game-game AAA pada umumnya, namun ada level apresiasi tersendiri untuk apa yang berhasil mereka capai. Baik untuk model karakter Linda yang masih tetap sensual namun kini dengan lebih banyak detail hingga sensasi urban yang kini lebih ditonjolkan daripada pilihan desa terpencil dan hutan belantara yang mendominasi seri pertamanya.

Keputusan untuk menyuntikkan sebuah lokasi semi open-world yang bisa Anda eksplorasi di setiap transisi chapter tentu saja pantas untuk disambut baik. Apalagi Digital Happiness terhitung berhasil membangun kota dengan cita rasa Indonesia yang kental. Ia terlihat menarik untuk gamer non-Indonesia yang mencicipinya, tetapi juga menawarkan begitu banyak humor dan easter egg untuk gamer-gamer Indonesia yang familiar dengan objek dan merk yang sudah menemani keseharian kita ini. Anda akan menemukan plesetan merk kocak, lelucon ringan di iklan yang tertempel di dinding, hingga sekedar keseharian para NPC dari yang gemar nongkrong di tepi jalan untuk bermain game mobile hingga dinamika anak kos di dalamnya. Kesemuanya juga dikombinasikan dengan tata cahaya yang juga terasa lebih dramatis dengan varian lokasi lebih beragam, dari hotel hingga rumah sakit. Ada cita rasa “Indonesia sekali” yang menyeruak dari desain kota dan NPC yang ada, termasuk tren yang terhitung masih relevan seperti popularitas Ojek Online yang meroket, misalnya.

Ada kota dengan konsep semi-terbuka yang bisa Anda eksplorasi.
Tenang saja, ini masih kota yang “Indonesia sekali”.

Namun, kesan yang berkebalikan justru datang dari desain monster dan makhluk halus yang Anda temui. Bahwa alih-alih seperti seri pertama yang memang dipenuhi dengan makhluk halus khas Indonesia dengan ekstra “permak” desain, Dreadout 2 justru menawarkan desain musuh baru yang lebih terasa internasional daripada spesifik Indonesia. Kita berbicara soal sosok tokoh antagonis baru bak karakter anime dengan gaun hitam liar yang mendominasi, iterasi Pocong baru yang kini juga menggunakan senjata melee bak karakter yang Anda temui di Silent Hills, hingga dokter bedah gila dengan gergaji mesin yang mengingatkan Anda pada salah satu scene di Outlast. Bahkan musuh-musuh fisik yang Anda lawan di sepanjang permainan lebih mengingatkan Anda pada monster yang Anda temui di game survival horror barat daripada hantu yang Anda temui di Indonesia. Kami melihatnya sebagai sebuah kontras yang menarik.

Kontras dengan kota yang masih sangat Indonesia sekali, beberapa monster baru yang ia usung justru mengusung cita rasa lebih internasional.
Ia jelas terinspirasi dari game survival horror lain dan tidak lagi sekedar Fatal Frame seperti di seri pertamanya.

Satu yang hal yang cukup membingungkan justru datang dari sisi presentasi audio yang ia usung. Sebagai game yang menonjolkan sisi horror, desain suara Dreadout 2 memang pantas diacungi jempol. Perjalanan Anda akan ditemui kesunyian total atau justru suara-suara kecil yang memperkuat atmosfer yang ada, efektif untuk membuat bulu kuduk Anda merinding.

Yang kami keluhkan justru datang dari penggunaan bahasa dalam Voice Acting yang campur aduk. Beberapa karakter NPC menggunakan bahasa Sunda, yang lain menggunakan bahasa Indonesia, namun tidak sedikit pula karakter yang justru berbahasa Inggris. Berita buruknya? Sistem campur aduk ini tidak memiliki rasionalisasi yang jelas dan tentu, tidak merepresentasikan kondisi sosial apapun. Bahwa karakter atau hantu yang berbahasa Inggris ini tidak mewakili kelompok sosial dengan pendidikan atau ekonomi lebih tinggi dan sebaliknya, membuat konsep campur aduk ini semakin sulit diterima akal sehat. Sebagai contoh? Karakter Nini Tetty – pengasuh kecil Linda dari kampung yang sudah berusia uzur tetap berbicara dan bercakap fasih dalam bahasa Inggris, sementara teman-teman Linda di SMA yang masih muda berbicara dalam bahasa Indonesia. Tidak ada penjelasan mengapa Nini Tetty bisa dan harus berbicara bahasa Inggris (di luar ia memang punya peran penting dalam cerita) ketika berhadapan dengan Linda, yang notabene juga fasih berbahasa Indonesia.

Voice acting campur aduk tanpa rasionalisasi jelas memang sedikit menyebalkan.

Maka dari sisi presentasi, Dreadout 2 memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari pertamanya, baik dari sisi detail, tata cahaya, hingga desain yang ia usung terutama dari lokasi yang bisa Anda eksplorasi. Namun harus diakui di sisi lain, ada sisi presentasi yang juga pantas dipertanyakan, seperti sistem campur sari bahasa yang sulit kami rasionalisasi, yang tentu saja berakhir mengacaukan sensasi imersif yang seharusnya.

Bak Bukit Sunyi

Mekanik foto dari seri pertamanya tetap kembali di seri ini.

Di seri pertamanya, Dreadout memang jelas terinspirasi dari Fatal Frame, yang kemudian dilebur dengan mitologi supranatural lokal dengan teknologi yang lebih relevan. Lewat Irisphone yang ia miliki, yang notabene merupakan kamera ponsel, Linda bisa menundukkan ragam makhluk halus yang ia temui. Ia juga dibekali dengan sistem charge shot yang bisa menghasilkan damage lebih besar, yang tentu harus Anda atur mengikuti alur gerak musuh yang berbeda-beda. Tidak ada hal remeh-temeh yang menyulitkan seperti keterbatasan jumlah film atau baterai yang harus Anda gonta-ganti. Satu-satunya timbal balik yang bisa Anda temukan hanyalah fungsi kamera yang akan terhenti sementara jika Anda melakukan charge shot berturut-turut. Sesuatu yang rasional atas nama balancing.

Konsep yang sama juga diusung Dreadout 2 ini. Berbekal Irisphone yang juga berisikan lebih banyak aplikasi untuk memeriksa jenis makhluk halus yang baru Anda tundukkan, objektif yang harus Anda capai, dan juga jepretan yang terekam sementara, Linda juga dibekali dengan kemampuan yang sama. Bak sebuah “senjata api”, Anda bisa menggunakan kamera ponsel ini untuk mengalahkan beragam makhluk halus yang Anda temui. Akan ada efek partikel biru yang muncul dari tubuh mereka untuk menandai bahwa kamera Anda memang menghasilkan damage. Namun atas nama proses balancing juga, ada “jeda” yang juga harus Anda pikirkan di setiap shot ataupun animasi musuh yang terkena damage sebelum Anda bisa menyerang mereka kembali. Ini membuat aksi menembak bak Burst Shot misalnya, tidak akan bisa digunakan di Dreadout 2.

Kamera akan bisa Anda gunakan untuk menundukkan jenis makhluk halus tertentu.
Namun ia kini menyediakan porsi survival horror yang lebih action lewat pertarungan melee yang diusung. Tenang saja, ia sama sekali tidak sulit.

Namun tidak lagi terpaku pada konsep ala Fatal Frame ini, Digital Happiness memutuskan untuk memperluas aksi Linda dengan sistem gameplay yang lebih dekat dengan game-game survival horror yang lain. Bahwa kini dengan musuh berwujud fisik yang juga harus ia tundukkan, Linda kini juga dibekali dengan sesi gameplay dimana ia harus mengalahkan mereka dengan senjata melee di tangan. Namun tenang saja, ia tidak sesulit yang dibayangkan. Sempat dicurigai akan mirip “Souls”, pertarungan melee di Dreadout 2 ini justru terhitung mudah. Selain menyerang secara langsung dengan sistem kombinasi 3-4 pukulan berturut-turut, Linda kini juga dibekali kemampuan stun menggunakan flash kamera miliknya. Jika Stun ini berhasil dieksekusi, Linda bisa mendekati musuh terkait dan mengeksekusi animasi pemungkas yang menghasilkan damage lebih besar daripada serangan kombinasi biasa. Tentu saja ada invicibility frame selama animasi, membuatnya jadi opsi serangan yang lebih minim resiko.

Satu yang menarik adalah bagaimana cara Dreadout 2 mengeksekusi dua sistem gameplay yang tentu saja berbeda ini. Bahwa alih-alih membaurnya, mereka memutuskan untuk memisahkan sesi gameplay ini dalam format chapter, sesuai dengan cerita yang ada. Hasilnya? Anda tidak akan bisa mengeluarkan kamera dan memotret untuk sesi gameplay yang meminta Anda untuk bertarung secara melee dan begitu juga sebaliknya. Sistem ini biasanya akan terikat dari awal hingga chapter tersebut selesai, yang juga mau tidak mau, membuat Anda bisa mengantisipasi kira-kira jenis musuh seperti apa yang akan Anda hadapi di sana. Berita baiknya? Dreadout 2 menawarkan cukup banyak varian boss untuk memastikan, setidaknya baik sesi memotret ataupun sesi bertarung secara melee memiliki tantangan dan keasyikannya sendiri. Berita buruknya? Tidak banyak lapisan strategi yang perlu Anda pikirkan atau gonta-ganti saat melawan musuh tertentu, karena pada dasarnya, mereka hanya bisa ditundukkan dengan satu cara saja.

Dreadout 2 memisahkan chapter yang menggunakan kamera atau senjata melee sebagai fokus. Keduanya tidak bercampur.
Tidak ada-nya informasi bar HP, membuat Anda sulit untuk memprediksi seberapa genting kondisi Linda atau seberapa lagi panjang pertarungan yang harus Anda lalui.

Sayangnya, terlepas dari manapun sesi gameplay yang harus Anda lalui, Dreadout 2 hadir dengan satu kelemahan yang cukup fatal – terbatasnya informasi soal status yang disajikan kepada Anda, terutama menyangkut soal HP yang dimiliki Linda. Hasilnya adalah sebuah inkonsistensi dan sulitnya untuk memprediksi langkah Anda selanjutnya. Anda tidak pernah tahu sebenarnya seberapa banyak serangan yang bisa diterima Linda sebelum Anda tewas dan harus melakukan Load Checkpoint. Terkadang, ia terasa tanky dan bisa menerima belasan serangan tanpa masalah seperti yang terjadi di pertarungan boss pertama. Tetapi di sisi lain, terkadang ia bisa berakhir tewas hanya karena tiga serangan yang masuk saat melawan boss fisik yang ukurannya lebih besar. Untuk sebuah game action, tidak bisa menerka seberapa genting sebenarnya situasi Anda tentu saja sebuah berita buruk. Minimnya informasi soal HP saat melawan boss di chapter serangan melee juga menghasilkan kekhawatiran tersendiri, karena Anda tidak pernah tahu seberapa lama lagi pertarungan yang harus Anda jalani. Minimnya informasi menghasilkan ketidakpastian yang tidak kita perlukan.

Satu hal yang paling menarik dari Dreadout 2 juga datang dari konsep semi open-world yang ia usung. Bahwa alih-alih linear dan bergerak dari satu chapter langsung ke chapter selanjutnya, Anda biasanya akan diberikan “waktu jeda” untuk menjelajahi kota dimana Linda tinggal. Di dalamnya, Anda bisa bertemu dengan ragam NPC yang sibuk beraktivitas dengan beberapa di antaranya akan menyediakan konten lebih di dalamnya. Linda bisa menyibukkan diri dengan misi sampingan yang ditawarkan beberapa NPC untuk ekstra tantangan atau membantu Professor Mona untuk mencari tanda-tanda Urban Legends yang tersebar di beragam lokasi. Namun tidak seperti game serupa yang biasanya memberikan indikasi bahwa misi sampingan tersedia, Anda harus secara aktif berkeliling, berbicara, dan mencari NPC mana yang akan memicu sampingan ini. Dua berita buruk? Pertama, misi sampingan ini bisa terlewat karena ia hanya tersedia di chapter tertentu. Kedua? Tidak ada sesi eksplorasi bebas setelah Anda menyelesaikan game ini, hingga tidak ada kesempatan untuk menikmati Dreadout 2 setelah tamat atas nama iseng belaka.

Ia menghadirkan misi sampingan di kota, namun terikat pada Chapter. Jika Anda tidak memicunya, anda bisa berujung melewatkannya.
Ada lapisan cerita menarik yang bisa Anda temukan di luar misi sampingan yang ada.

Namun satu hal fantastis yang kami temukan dari konsep semi open-world ini justru tidak mengakar pada misi sampingan atau beragam lelucon merk yang ia suntikkan. Bahwa di satu titik, ia juga menjadi ruang cerita yang cukup menyentuh untuk Anda yang memang tidak ragu menyibukkan diri untuk “menemukan” cerita Anda sendiri. Salah satu contohnya datang dari kisah seorang ibu di rumah sakit yang pada saat pertama kali Anda kunjungi, jelas tengah menemani anak balitanya yang tengah sakit keras untuk berobat. Sang anak mengeluh sakit, namun si ibu terlihat begitu tegar menemani. Jika Anda iseng untuk berkunjung lagi ke rumah sakit di chapter selanjutnya (walaupun tidak punya misi sama sekali di sana), Anda akan menemukan progress kisah untuk sang ibu yang kini duduk sendiri, menunduk, dan menangis. Jika Anda mengeluarkan Irisphone Anda, Anda akan mendapatkan sebuah scene yang cukup menyentuh di dalamnya.

Dreadout 2 juga tentu saja mengusung beberapa jenis puzzle di dalamnya, selain misi sampingan yang kami bicarakan sebelumnya. Namun sebagian besar “puzzle” ini tidak lah sulit. Sebagian besar meminta Anda sekedar mencari dan memicu solusi yang sudah tersedia secara otomatis, beberapa meminta Anda melakukan eksplorasi lebih intens untuk mencari kunci untuk pintu spesifik yang biasanya dihuni dengan beberapa tantangan di dalamnya. Dari sepanjang cerita, hanya ada 1-2 puzzle yang benar-benar meminta Anda untuk menggunakan otak Anda dan berpikir keras.

Dengan sistem aksi baru ini, Dreadout 2 terasa baru dan menyegarkan.

Kami menyambut terbuka penambahan gameplay ala Silent Hills yang ditawarkan Dreadout 2, bersama dengan kembalinya formula di seri pertama. Setidaknya ia berhasil menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda alih-alih bermain “aman” dengan formula yang sudah berhasil di seri sebelumnya. Darinya, sensasi survival horror yang lebih kental mengemuka, yang ternyata melebur dengan manis dengan ragam penambahan musuh dan konsep semi open-world yang ia usung. Walaupun harus diakui, di beberapa pertarungan, terutama saat melawan boss, hitbox yang diusung baik saat menggunakan kamera ataupun senjata melee terkadang tidak terasa akurat dengan sensasi kurang memuaskan.

Tags: , , , , , ,

Ngeri-Ngeri Sedap

Lewat atmosfer dan desain suara yang ia usung, Dreadout 2 masih mengerikan. Tetapi…

Seperti yang Anda tahu, kami termasuk gamer yang tidak menyenangi konsep yang disebut sebagai “jump-scare”. Karena alih-alih rasa takut, yang dipicu oleh jump scare adalah rasa kaget dan bukan ketakutan yang seharusnya. Berita baiknya? Dreadout 2 sama sekali tidak mengeksploitasi konsep ini untuk menghadirkan rasa ketakutan dan kecemasan untuk sensasi horror yang seharusnya. Sebagian besar rasa tersebut muncul dari desain musuh, bunyi, dan tentu saja atmosfer yang diracik sedemikian rupa untuk memicunya secara efektif. Tetapi sumber rasa horror paling utamanya, muncul dari tempat yang lain.

Sedikit lelucon dan tidak berlebihan, rasa ketakutan utama Dreadout 2 memang masih bersumber dari ragam masalah teknis yang masih menghuninya. Salah satu masalah teknis ini percaya atau tidak, bahkan membuat progress kami sempat terhenti dimana kami tidak bisa lagi melanjutkan permainan tanpa solusi konkrit yang bisa ditempuh. Bug yang dipicu oleh sistem checkpoint yang masih dipenuhi dengan celah ini membuat satu-satunya pintu yang harusnya kami lalui berujung terkunci secara permanen, tidak bisa lagi dibuka, tanpa solusi alternatif sama sekali. Mengingat ia juga hanya mengusung sistem auto-save tanpa save manual, kami juga tidak bisa kembali ke kondisi sebelum bug ini terjadi. Membuat satu-satunya solusi di kala itu hanyalah menunggu hotfix via patch atau memainkannya dari ulang dan memastikan kesalahan yang sama tidak terulang.

Berita baiknya? Digital Happiness sendiri berperan cukup aktif untuk memastikan beragam bug fatal ini terasi dengan cepat. Lewat hotfix / patch berukuran 53 MB yang ia keluarkan kemarin, ia berhasil menghabisi bug fatal yang sempat kami rasakan ini, memicu pintu yang terkunci sebelumnya untuk terbuka tanpa masalah, dengan progress cerita yang akhirnya bisa kembali bergerak. Lewat sebuah list panjang yang mereka lepas, Digital Happiness juga berbagi secara mendetail soal bug lain yang sudah mereka tangani, terutama untuk bug-bug fatal yang bisa mematikan progress permainan.

Sumber “kengerian” utamanya justru datang dari beragam bug yang bisa terpicu dan berakhir menghentikan progress Anda secara total.
Sayangnya, setelah patch, beberapa bug ini masih bertahan. Namun tidak sefatal yang sudah diperbaiki.

Patch ini tentu saja pantas untuk dipandang sebagai komitmen untuk terus menyempurnakan Dreadout 2 di masa depan. Namun sayangnya, ia tidak menyelesaikan semua bug dan masalah pelik lain yang menghantui Dreadout 2. Sebagai contoh? Dalam proses kami menyelesaikan game ini setelah patch, kami masih menemukan bug yang lumayan mengganggu yang untungnya bisa teratasi dengan melakukan Load Checkpoint. Bug pertama membuat kami tidak bisa membuka sebuah rak key item padahal semua kunci sudah tersedia. Bug kedua? Lebih gila, boss terakhir yang seharusnya melewati beberapa fase menolak untuk muncul dan melanjutkan pertarungan semata-mata karena kami tidak sengaja memicu animasi serangan pemungkas untuk musuh kroco yang ia summon dengan lokasi yang berdekatan dengan posisi si boss. Untungnya, kali ini kami tidak perlu menunggu patch untuk bisa menerobosnya.

Masalah lain juga mengakar pada proses balancing yang masih buruk untuk boss-boss dimana kamera menjadi senjata utama Anda. Sebagian boss ini adalah “hantu” yang bisa menembus objek dan bergerak cepat. Di sebuah situasi dimana pergerakan bidik kamera Anda begitu lambat dan tidak sebanding dengan gerak cepat mereka, apalagi ketika Anda berada di ruang sempit dimana sang hantu bisa menembus tembok dan muncul dari mana saja, ia selalu berakhir jadi pertarungan yang memicu rasa frustrasi. Apalagi beberapa AI ini, seperti pertarungan melawan boss kuntilanak di salah satu chapter, juga diikuti dengan kemampuannya untuk menghindari jepretan kamera Anda yang notabene, punya sedikit waktu jeda di dalamnya. Tembusnya pertarungan boss-boss seperti ini tentu saja membuat Anda mempertanyakan kira-kira seperti apa sebenarnya proses uji kualitas yang terjadi di belakang layar Dreadout 2.

Pertarungan boss, terutama yang menggunakan kamera, masih terasa kurang balance.

Semua masalah teknis ini, apalagi dengan bug yang berpotensi untuk menghalangi progress permainan Anda secara total, maka sensasi “ngeri-ngeri sedap” Dreadout 2 justru muncul dari kondisi yang tidak konsisten ini. Bahwa di luar pertarungan tidak balance di beberapa titik dan atmosfer mencekam yang ia usung, tidak ada yang lebih menyeramkan selain menemukan situasi dimana Anda tidak tahu apakah kematian yang baru saja Anda alami atau proses “Exit Game” dengan aksi auto-save yang baru Anda picu akan menghasilkan bug fatal atau tidak. Sensasi ngeri-ngeri sedap yang siap untuk membuat senyum aja menjadi rasa kesal jika Anda tengah “sial”.

Namun setidaknya, dengan patch hotfix yang mereka keluarkan dengan cepat untuk memperbaiki bug fatal kemarin, kita sepertinya bisa mengantisipasi bahwa Digital Happiness akan berjuang keras untuk menyelesaikan masalah-masalah teknis ini secepat yang mereka bisa. Sebuah jaminan yang cukup untuk membuat Anda yang sudah menginvetasikan uang Anda, sedikit lebih tenang.

Kesimpulan

Dreadout 2 tetap tampil sebagai game horror racikan developer lokal yang memesona. Bahwa keberanian mereka untuk mengusung sesuatu yang baru dan berbeda dalam desain yang jelas terasa lebih ambisius bekerja dengan cukup baik dan pantas untuk disambut dengan tangan terbuka. Tetapi sulit untuk mengenyampingkan harapan bahwa seandainya saja mereka menginvetasikan waktu lebih banyak untuk memastikan rilis yang lebih bersih masalah teknis.

Dreadout 2 adalah sebuah seri sekuel yang datang dengan penambahan gameplay yang penuh resiko, yang untungnya terbayar dengan manis di mata kami. Penambahan sesi pertarungan melee yang ternyata tidak segila seri “Souls” yang sempat diprediksi sebelumnya berhasil mengukuhkan sensasi survival horror yang lebih solid, yang jelas terinspirasi dari beberapa judul besar seperti Silent Hills dan The Evil Within. Semuanya dilebur dengan konsep dunia semi open-world yang memberikan ekstra lapisan cerita dan misi sampingan untuk diselesaikan. Ia menawarkan sisi presentasi visual yang lebih baik dari seri pertama bersama dengan cita rasa “sangat Indonesia” yang menghadirkan nilai ekstra bagi gamer Indonesia yang tentu saja familiar dengan nilai-nilai ini.

Namun tentu saja, Dreadout 2 tidak bisa dibilang sebagai game yang sempurna. Bahwa pada akhirnya, ia tetaplah game horror ambisius yang diracik dalam kapasitas sebuah game indie, terutama dari jumlah resource. Ada beberapa banyak pilihan yang kami pertanyakan, dari sistem bahasa campur aduk, balancing yang masih kurang untuk beberapa pertarungan boss, minimnya indikator untuk beberapa hal penting seperti ketersediaan misi sampingan dan HP misalnya,  hingga masalah bug yang fatal. Masalah lain yang juga pantas dibicarakan? Cerita yang tidak terasa koheren. Bahwa terlepas dari fakta bahwa kita memahami siapa Linda, sulit untuk menangkap kegentingan konflik yang tengah ia hadapi. Minimnya penjelasan dan cut-scene yang relevan membuat kami sulit mengerti lore yang ia usung, seperti keterkaitan Siska dengan tokoh antagonis yang baru.

Tentu saja, Dreadout 2 tetap tampil sebagai game horror racikan developer lokal yang memesona. Bahwa keberanian mereka untuk mengusung sesuatu yang baru dan berbeda dalam desain yang jelas terasa lebih ambisius bekerja dengan cukup baik dan pantas untuk disambut dengan tangan terbuka. Tetapi sulit untuk mengenyampingkan harapan bahwa seandainya saja mereka menginvetasikan waktu lebih banyak untuk memastikan rilis yang lebih bersih masalah teknis. Namun dengan harga yang ia usung dengan konten yang ada, kami tetap merekomendasikannya.

Kelebihan

Linda still total bae..
  • Linda
  • Peningkatan visual signifikan dibandingkan seri pertama
  • Dengan konsep semi open-world untuk sisi eksplorasi
  • Cita rasa Indonesia penuh lelucon, terutama di desain kota
  • Kehadiran sisi aksi berbasis serangan melee yang menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda
  • Kini dengan ekstra misi sampingan
  • Atmosfer yang tetap mencekam
  • Desain monster baru yang keren

Kekurangan

Ada setan / hantu berbahasa Inggris dan ada pula yang berbahasa Indonesia atau Sunda? Apa yang terjadi di sini?
  • Voice acting campur aduk yang sulit dirasionalisasi
  • Masih dipenuhi bug
  • Beberapa boss, terutama pertarungan menggunakan kamera, butuh balancing lebih jauh
  • Tanpa bar HP, seberapa “tanky” Linda terasa inkonsisten
  • Cerita terasa tidak koheren

Cocok untuk gamer: yang mencintai seri Dreadout pertama, menginginkan game survival horror dengan cita rasa lokal

Tidak cocok untuk gamer: yang mengharapkan kemulusan dan kualitas game AAA berbugdet tinggi, tidak senang dengan setan lokal

Tags: , , , , , ,
READ SOURCE
Buka UC News, Baca Berita Terhot